Ketua PKPS : Produksi Jagung Kita Menghadapi Dua Masalah Besar

0
343

Inapos, Jakarta.- Pusat Kajian Pangan Strategis (PKPS) menyatakan, pengembangan budi daya jagung di Indonesia saat ini terkendala rendahnya areal persawahan untuk menanam komoditas itu sehingga perlu perluasan lahan yang memadai.

Ketua PKPS Siswono Yudho Husodo menyampaikan, kita menghadapi dua masalah besar, luas lahan kecil dan luas lahan per kapita yang juga kecil.

“Luas lahan di Indonesia saat ini hanya sebesar 7,78 juta hektar. Bila dihitung lahan per kapita, luas lahan di Indonesia hanya sebesar 358,5 meter persegi per kapita,” ujar Siswono dalam agenda Rembug Jagung Nasional dengan mengangkat tema ‘Sinergi Kekuatan Nasional Dalam Pencapaian Swasembada Jagung Dengan Iklim Usaha Yang Kondusif dan Mensejahterakan’, yang diselenggarakan di Jakarta Design Center, Rabu (20/09/17).

Akibat dari kecilnya lahan, pertanian di Indonesia tidak bisa berkembang. Bila ada peningkatan produksi jagung, tentu akan ada penurunan produksi beras. Begitu juga bila produksi tebu naik, maka ada komoditas lain yang dikorbankan seperti jagung.

Petani Indonesia pun dinilai masih banyak yang mengelola lahan kecil, lanjut Siswono, “bahkan ada beberapa petani yang tidak memiliki lahan. Rata-rata kepemilikan lahan petani Indonesia sebesar 360 meter persegi,” pungkasnya.

Oleh karena itu, PKPS menilai perlu ada perluasan lahan. Dia juga bilang, Indonesia perlu memperbesar program transmigrasi dengan orientasi utama pada perluasan areal pertanian pangan.

Fluktuasi harga jagung akan mempengaruhi harga komoditas lainnya. Pengaruh tersebut diakibatkan oleh penggunaan jagung sebagai bahan utama pakan ternak. Sementara pakan ternak merupakan biaya paling besar dalam industri peternakan.

“Fluktuasi harga jagung mempengaruhi fluktuasi harga daging ayam dan telur. Sebab selama ini pakan ternak mendominasi sebesar 70% dalam biaya produksi,” jelas mantan Menteri Transmigrasi.

Menurutnya, harga jagung saat ini masih tinggi. Siswono bilang, saat ini harga jagung sebesar Rp 3.800/Kg. Angka tersebut lebih tinggi dari batasan harga pemerintah yang sebesar Rp 3.100/Kg.

Oleh karena itu produksi jagung perlu ditingkatkan untuk menjamin pakan ternak. Hal tersebut melihat pertumbuhan konsumsi dagung dan telur ayam. Konsumsi daging ayam saat ini 10 Kilogram (Kg) per kapita per tahun. Sementara konsumsi telur ayam sebesar 100 butir telur per kapita per tahun.

Produksi jagung tahun 2016 meningkat dibandingkan tahun 2015. Produksi jagung pada tahun 2015 sebesar 19,61 juta ton. Sedangkan produksi jagung pada tahun 2016 sebesar 23,58 juta ton.

“Pertumbuhan produksi tersebut juga menurunkan impor jagung. Tahun 2015 jmpor jagung dinilai Siswono cukup besar yakni 3,5 juta ton. Namun, menurunnya impor dinilai belum menyelesaikan masalah pakan ternak,” tandas Siswono. (Elwan)