Kepongahan Orang Sekitar Jokowi Membuat Papua Bergejolak

0
397

(Catatan kecil Aznil Tan)

Saya termasuk orang yang menangis jika Papua pisah dari Indonesia hanya gara-gara ketololan orang sekitar Jokowi yang tidak becus membaca kemauan orang Papua.
Apalagi dalam waktu dekat ini, PBB datang ke Papua mau evaluasi Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA).

PEPERA adalah pemilihan umum yang diadakan pada tanggal 2 Agustus 1969 untuk menentukan status daerah bagian barat Pulau Papua, antara milik Belanda atau Indonesia. 1.025 laki-laki dan perempuan yang diseleksi oleh militer Indonesia secara aklamasi memilih bergabung dengan Indonesia.

Pelaksanaan Pepera itu turut disaksikan oleh utusan PBB, utusan Australia dan utusan Belanda. Ternyata hasil Pepera menunjukkan masyarakat Irian Barat menghendaki bergabung dengan NKRI. Hasil Pepera itu dibawa ke sidang umum PBB dan pada tanggal 19 November 1969, Sidang Umum PBB menerima dan menyetujui hasil-hasil Pepera.

Namun berapa pihak meminta untuk meninjau ulang peran PBB dalam Pepera sekaligus keabsahan hasilnya. Kondisi ini lah dimanfaatkan oleh elit-elit politik yang tidak dewasa berdemokrasi. Kondisi ini lah dimanfatkan oleh pihak yang anti NKRI. Kondisi ini lah masuk provokator-provokator memperkeruh Papua. Kondisi ini lah pihak asing mendapat celah untuk memisahkan Papua dengan Indonesia.

Meski saya tidak pernah ke Papua tetapi saya cukup mengerti tentang Papua. Waktu saya kuliah dulu, saya punya teman bernama Nando Letsoin Bruno Blacky. Dia adalah salah satu cucu dari Benedictus Jacobus Letsoin, pejuang PEPERA yg ikut menandatangani Papua bergabung dengan Indonesia. Kami dulu adalah sama aktivis 98 yang pernah berdarah-darah waktu reformasi 1998.

Pada waktu sekarang saya banyak berteman dengan orang Papua dan berdiskusi tentang Papua. Terutama tokoh muda Papua bernama Hendrik Yance Udam.

Mereka ini sangat nasionalis dan sangat mencintai NKRI. Saya orang Padang dan dia orang Papua. Kami merasa sama memiliki republik ini tanpa ada perbedaan. Duduk sama rendah, tegak sama tinggi.

Dari mereka lah saya tahu tentang Papua dan cara menjaga keutuhan NKRI dari Sabang sampai Merauke. Dari mereka lah saya tahu bahwa Papua itu sangat NKRI.

Tetapi karena kebodohan orang disekitar Jokowi, Papua terancam terpisah dari Indonesia. Karena kesombongan dan kepongahan para elit politik sekitar Jokowi, insiden di Papua terjadi kerusuhan besar. Berapa nyawa anak bangsa melayang sia-sia. Berapa orang luka-luka. Perkantoran, toko dan pasar terbakar. Warga hidup dalam ketakutan

Sebenarnya penyelesaian Papua itu sangat mudah. Dan berapa anak Papua berkali-kali sudah menyerukanya.

Caranya ialah Jokowi harus datang ke Papua. Bakar batu besar-besaran dengan kepala suku, tokoh PEPERA, tokoh pro NKRI, tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Bakar batu itu memunjukan minta maaf pemerintahan pusat atas insiden di Surabaya dan sebagai bentuk persaudaraan sesama anak bangsa Indonesia yang saling rukun danai.

Perilaku rasis diadili. Kelompok separatis ditindak. Yang bikin kerusuhan ditindak tegas.

Jokowi itu sangat dihormati orang Papua. Mereka tahu, Jokowi lah selama ini memperhatikan Papua.

Orang Papua itu adalah orang pro NKRI. Orang Papua itu nasionalisnya sangat tinggi kepada Indonesia. Mereka sangat mencintai Indonesia. Mereka adalah orang sangat setia. Mereka mempunyai hati penuh kasih.

Jokowi duduk bersama dengan orang Papua untuk bersama mencari desain cara memajukan Papua. Mencari solusi untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia masyarakat Papua serta melakukan revolusi mental. Bermusyawarah bersama membangun Papua yang berkeadilan dan mensejahterakan masyarakat Papua.

Namun sayang, entah siapa orang sekitar Jokowi sebagai pembisik. Menyesatkan Jokowi sehingga Jokowi tidak datang ke Papua.

Tidak itu saja, kebodohan pejabat-pejabat negara yang bertanggungjawab terhadap keamanan, stabilitas politik dan menjaga kerukunan anak bangsa malah sombong dan pongah menerima aspirasi masyarakat. Mereka sok benar dengan langkah-langkah dia lakukan

Mereka tidak pernah merangkul tokoh-tokoh Papua dalam menyelesaiksn permasalahan. Mereka tidak mengajak bicara para kepala suku untuk duduk bersama . Mereka tidak meminta tolong kepada pendeta dan pastor untuk turut meredam suasana. Mereka tidak mengajak para tokoh-tokoh NKRI untuk bersama menjaga NKRI.

Entah kesombongan apa para pejabat negara itu. Mereka cuma sibuk dengan menghandalkan kekuatan Polisi dan TNI atau pemerintahan daerah setempat untuk meredam konflik.

Akhirnya fatal. Mereka ditugaskan oleh presiden untuk menenangkan suasana malah setelah mereka balik ke Jakarta terjadi rusuh besar.

Itulah kesombongan dan kepongahan para orang sekitar Jokowi yang tidak mau mendengar pendapat orang lain. Mereka sombong dan pongah.

Akibat ketololan mereka, rakyat kecil yang korban. Negara terancam pecah.

Ini harus dihajar. Jangan sampai orang bobrok yang sombong tersebut merusak Jokowi dan menghancurkan bangsa ini.

(Matraman, 2 September 2019)


Komentar Anda?