JAKARTA, INAPOS – Wakil Presiden RI Jusuf Kalla secara resmi membuka pameran internasional bidang teknologi industri pertahanan, Indo Defence 2018 Expo & Forum , Rabu (7/11) di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Pameran berlangsung selama empat hari.

Kemenristekdikti adalah salah satu yang ikut berpartisipasi di ajang promosi bagi produsen peralatan dan keamanan internasional ini. Kepala Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik Kemenristekdikti, Nada Marsudi mengatakan, teknologi industri pertahanan atau Defence Technology  merupakan salah satu bidang prioritas riset teknologi.

“Kita punya yang namanya Rencana Induk Riset Nasional (RIRN). Ada 10 fokus riset di sana, salah satunya adalah mengenai Defence Technology   dan oleh karena itulah Kemenristekdikti selalu ikut berpartisipasi dalam pameran internasional bidang teknologi industri pertahanan, Indo Defence ini,”jelas Nada.

Indo Defence Expo & Forum digelar 2 (dua) tahun sekali oleh Kementerian Pertahanan bekerjasama dengan PT Napindo Media Ashatama sebagai wadah untuk memperkuat kapasitas industri pertahanan lokal.

“Indo Defence 2018 Expo & Forum  ini  merupakan salah satu sarana  promosi Indonesia,”imbuh Nada.

Menurut Nada, negara yang besar adalah negara yang bisa mempertahankan ketahanannya dan selalu menjaga keamanan itu.

“Apapun misalnya, kita maju di dalam ekonomi, maju dalam pendidikan, tetapi kan harus ada ketahanan untuk NKRI. Jadi menurut saya Defence Technology  itu sangat penting. Oleh karena itu kita memberikan insentif  kepada swasta yang ingin mengembangkan Defence Technologynya. Di dalam Ditjen Penguatan Inovasi, ada yang insentif melalui inovasi industri,”tutur Nada.

Sementara itu, Duta Besar Timor Leste untuk Indonesia Alberto Xavier Pereira Carlos mengatakan, bahwa negaranya berminat menggandeng LAPAN untuk mengawasi praktik illegal fishing yang marak terjadi di Timor Leste.

LAPAN dalam Indo Defence 2018 Expo & Forum. (Foto/red)

“Ke depan pengawasan lebih mudah dengan menggunakan penginderaan satelit, sehingga kita kita bisa menghilangkan sama sekali illegal fishing di wilayah Timor Leste. Timor Leste setiap tahun rugi 30-40 juta dolar akibat illegal fishing,”ungkap Alberto.

Menurut Alberto, Indonesia teknologinya sudah baik, sehingga praktik illegal fishing  sudah tidak bisa lagi bergerak di sini (Indonesia). Oleh karena itu,  para pelakunya lari ketempat yang kurang dikontrol,  karena teknologinya kurang canggih.

Terkait Indo Defence 2018 Expo & Forum, dirinya menilai ini pameran internasional yang cukup besar dan maju, karena diikuti hingga 60 negara.

“Ini bisa menjadi satu model untuk negara-negara yang lain, “pungkasnya. (red)