BerandaNusantaraKasus Penembakkan Polisi Di Cirebon, IPW : Polri Harus Menata Sistem Perlindungan...

Kasus Penembakkan Polisi Di Cirebon, IPW : Polri Harus Menata Sistem Perlindungan Anggotanya

Jakarta.- Kasus penembakan terhadap dua polisi di Tol Kanci Cirebon, Jawa Barat, adalah modus kejahatan baru yang sangat sadis. Polri perlu mengantisipasi modus kejahatan ini agar tidak berulang dan membuat anggota kepolisian menjadi “mati konyol” saat bertugas.

 

Hal tersebut diungkapkan Ketua Presidium Indonesian Police Wacth (IPW) Neta S Pane dalam keterangan pers, Sabtu (25/4).

“Meskipun kedua polisi tersebut hanya luka berat tapi Indonesian Police Watch (IPW) berharap Polri segera menata sistem perlindungan terhadap anggotanya saat bertugas di lapangan.” Ujarnya.

Lanjut Neta, Melihat kasus penembakan di Tol Kanci ini, sudah saatnya Polri melengkapi mobil patrolinya dengan alat deteksi senjata jarak jauh atau dalam radius tertentu. Sehingga saat menemukan pihak pihak yang mencurigakan, sebelum melakukan pemeriksaan atau penggeledahan, petugas patroli sudah mengetahui, apakah orang yang dicurigai itu memiliki senjata atau tidak.

“Dengan demikian petugas kepolisian bisa lebih prepare dalam menghadapi situasi dan tidak “mati konyol” dalam menghadapi penjahat yang nekat.” Jelas Neta.

Dalam rinciannya, dari kasus yang ada, IPW mendata ada tiga kelompok yang sering membunuh polisi di lapangan. “Yakin, penjahat jalanan, bandar narkoba, dan teroris.” bebernya.

“Penjahat jalanan dan bandar narkoba, biasanya membunuh polisi karena dalam kondisi terjepit. Mereka menembak polisi saat digerebek atau saat hendak ditangkap. Belum pernah ada satu kasus pun, penjahat jalanan atau bandar narkoba serta merta tanpa alasan yang jelas menembak atau membunuh polisi.” Jelasnya.

Kasus penembakan yang serta merta tanpa alasan jelas hanya dilakukan para teroris terhadap anggota kepolisian. Kasus terakhir terjadi di Jember tahun lalu. Selain itu, beberapa kali polisi yang sedang bertugas diserang teroris dengan serangan bom bunuh diri.

“Jadi, melihat serangan di Tol Kanci patut diduga, pelakunya adalah teroris. Sepertinya, mereka sengaja berdiri di pinggir tol agar polisi patroli datang, kemudian mereka menembaknya di bagian vital yang mematikan.” Paparnya.

Terakhir, Neta menambahkan jika dikaitkan dengan travel warning Australia pekan lalu, sepertinya kasus penembakan di Tol Kanci ini sebuah sinyal peringatan akan adanya serangan berikutnya.

“Untuk itu Polri perlu mengantisipasi jaringan teroris pasca serangan di Tol Cipali, Polri tidak boleh lengah mengingat banyaknya orang asing yang mengikuti Asian Games. Selain itu, sudah saatnya Polri melengkapi mobil patrolinya dengan detektor senjata jarak jauh agar petugasnya di lapangan bisa lebih terlindungi saat bertugas.” Pungkasnya. (Red)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments