Jokowi Tak Menemui Peserta Aksi, Mahasiswa : Kita Tidak Ada yang Ingin Membunuh Jokowi

0
139

Inapos, Jakarta.- Pasca terjadinya penangkapan kepada 13 mahasiswa oleh aparat kepolisian dalam aksi 3 Tahun Jokowi-Jusuf Kalla, Jumat (20/10), hingga saat ini belum dapat dipastikan apakah sudah keluar atau belum.

Ribuan mahasiswa saat dipukul mundur oleh polisi yang berjumlah puluhan ribu tengah malam, ratusan mahasiswa di evakuasi oleh Forum Syuhada Indonesia (FSI) ke markasnya yang berada di Jl. Menteng Raya 58, Jakarta Pusat.

Pada hari minggu (21/10) sore hari, mahasiswa yang diwakili oleh Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia (FL2MI) yang juga diketuai oleh Syafrudin Syaputra saat menggelar konferensi pers mengatakan, saya menegaskan untuk seluruh publik yang ada di Indonesia, karena suhu politik semakin tinggi dan banyaknya pengklaiman dan saya pastikan kita tidak ada yang namanya penunggangan politik. Semuanya dimulai dari kita sebagai mahasiswa, dalam aksi kemarin kita melakukannya secara damai diawali dengan Sholat Jumat kemudian aksi dengan orasi, Shalawat dan lantunan doa hingga pukul 23:30 WIB.

“Disini kita hadir karena rasa peduli akan kondisi saat ini dan jalan satu-satunya kita dengan cara aksi. Selain dari pada itu, kita juga pernah mendengar Presiden Jokowi mengatakan ‘kangen didemo’, kita juga telah melakukan demo secara baik-baik. Tetapi tidak ada sambutan dari beliau (Jokowi-red), kita pun tidak ada yang ingin membunuh beliau ataupun mencelakai beliau, kita hanya meminta sebuah kebenaran,” tegas mahasiswa yang akrab dipanggil Putra.

Saya juga berpesan kepada seluruh mahasiswa Indonesia agar mengembalikan lagi semangat 98, semangat 65 dan semangat 45. Karena dari semangat-semangat itulah yang memberikan kita perubahan, karena dengan bersatunya kita itu akan terjadi perubahan. Pada tahun 1998 para mahasiswa sanggup sampai berminggu-minggu demi terjadinya perubahan, untuk itu harus adanya komitmen, agar dalam aksi kedepan kita membuktikan bahwa kita benar-benar peduli terhadap rakyat.

Keadilan hukum tidak ditegakkan seadil-adilnya, banyak tokoh yang diperlakukan seperti ini. “Saya berharap kesadaran bukan hanya pada mahasiswa atau buruh, tetapi kepada seluruh warga negara Indonesia. Hadirnya kita bukan untuk memecah belah, tetapi untuk kebenaran juga kesejahteraan untuk Indonesia yang lebih baik,” pungkasnya. (Elwan)


Komentar Anda?