JK : Dalam waktu 15 tahun, harga pangan naik tiga kali lipat

0
193

JAKARTA.- Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) meminta agar agar pengusaha bermitra dengan petani sehingga bisa meningkatkan produktivitas dengan teknologi, modal, dan pemasaran yang baik. Sebab Indonesia membutuhkan pertumbuhan pangan sebesar tiga persen per tahun untuk mensuplai kebutuhan penduduk yang jumlahnya meningkat 1,5 persen per tahun.

Menurut JK, dalam waktu 30 tahun jumlah penduduk dunia diperkirakan mencapai 9 miliar orang. Sementara jumlah penduduk Indonesia tahun 2045 diperkirakan mencapai 350 juta orang. “Itu artinya pertumbuhan pangan dibutuhkan naik kira-kira tiga persen per tahun. Indonesia harus siap dengan perhitungan produksinya, karena setiap tahun jumlah penduduk bertambah 1,5 persen,” ujar dia saat membuka Jakarta Food Security Summit. Acara itu diselenggarakan oleh Kamar Dagang Indonesia di Jakarta, Kamis 8 Maret 2018.

Sementara itu di sisi lain, Indonesia dihadapi setidaknya tiga tantangan. Pertama yaitu masalah lahan yang semakin menyempit karena pertumbuhan penduduk. Tantangan kedua adalah masalah urbanisasi penduduk. Selanjutnya adalah tantangan perubahan iklim‎ yang terjadi secara global. Semua tantangan tersebut menyebabkan trend harga pangan selalu naik.

“Dulu harga impor beras 170 Dolar AS per ton, sekarang bisa 420 Dolar AS per ton. Dalam waktu 15 tahun, harga pangan naik tiga kali lipat,” kata Wapres.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, menurut Kalla, diperlukan teknologi yang bisa meningkatkan produktivitas pertanian meskipun dengan kertebatasan lahan dan perubahan iklim.‎ “Kita harus buat revolusi barus eperti hybrid, sistem pengairan hemat air dan sebagainya. Apabila kita berpikir banyak negara yang bisa meningkatkan produktivitas tanpa menambah lahan, misalnya saja India,” papar dia.

 

Meskipun demikian, ‎petani memiliki keterbatasan dalam melakukan riset baik dari teknologi maupun modal. Apalagi upah petani masih rendah dan rata-rata berada di bawah UMR. Di sinilah peran pengusaha untuk bermitra dengan petani. “Pengusaha di sini tidak hanya yang bergerak di bidang pangan, karena tidak mungkin orang beli baju atau lainnya jika kebutuhan pangan belum terpenuhi,” ujar JK.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, mengatakan ada tiga pilar besar dalam pemerataan ekonomi yaitu mengenai lahan, vokasi, dan kesempatan kerja atau berusaha.

Berbicara mengenai lahan, sebetulnya penguasaan di Indonesia kecil karena daratan Indonesia hanya satu per tiga dari jumlah keseluruhan.

“Dari jumlah tersebut, sebanyak dua per tiganya kita klaim sebagai hutan, sehingga tinggal sepertiga lagi tanah yang digunakan untuk berusaha, pemukiman, infrastruktur, dan industri. Oleh karena itu, kenyataan pertama yang harus kita hadapi adalah penguasaan lahan terutama di Jawa sangat kecil,” ujar Darmin.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah menyiapkan strategi untuk mengoptimalkan lahan yang sudah ada. Salah satunya dengan mengoptimalkan lahan tadah hujan.

“Di Indonesia ada 50 persen lahan pertanian Indonesia yang menjadi tadah hujan sehingga rata-rata hanya tanam satu kali. Kita manfaatkan teknologi pengairan sehingga lahan tersebut bisa panen dua sampai tiga kali setahun,” ujar dia.

Amran mengatakan, ‎langkah kedua adalah meningkatkan produktivitas lahan yang ada. Salah satunya dengan menciptakan varietas baru hasil kerja sama riset perguruan tinggi Indonesia.

“Kita punya variestas baru yang dihasilkan IPB. Ini bisa menambah produktivitas hingga dua kali lipat. Kita beli bibit baru tersebut kurang lebih tiga juta hektar dan dibagikan pada petani secara gratis,” ujar dia. (Net)


Komentar Anda?