Jiwa dan Karya Raden Saleh

0
212
Massa pendukung RIDA

Raden Saleh sebagai salah satu pelukis besar yang pernah dilahirkan di bumi Nusantara mungkin tidak setenar nama nama pelukis legendaris lain semisal Basuki Abdullah atau Affandi. 

Masa hidup Raden Saleh yang terentang jauh pada masa penjajahan Belanda di awal abad ke 19 ketika nama Indonesia belum dilahirkan, kepeloporannya pun sebagai perintis seni rupa modern Indonesia kurang diketahui.

Terlebih koleksi lukisan Raden Saleh yang kini dihargai hingga puluhan miliar rupiah sangat jarang dipamerkan di tanah air. Kumpulan lukisan dan gambar Raden Saleh dipamerkan secara tunggal di Indonesia pada Juni 2012 di Galeri Nasional Jakarta.

Meski sosoknya kurang dikenal, salah satu karya terpenting Raden Saleh yakni lukisan bersejarah Penangkapan Pangeran Diponegoro sangat tersohor di Indonesia dan melahirkan banyak tafsir.

Dari tafsir Raden Saleh yang mendukung kolonialisme hingga tafsir sebaliknya yang menyebut lukisan itu sebagai bentuk kritik Raden Saleh terhadap praktek kolonialisme Belanda terhadap tanah Jawa atau Nusantara. Diluar kontroversinya banyak kalangan sepakat Raden Saleh adalah pelukis pertama bumi putera yang memperkenalkan teknik seni lukis modern di Nusantara. Raden Saleh juga merupakan pelukis pertama Nusantara yang karya karya lukisannya banyak dipajang dan dikoleksi sejumlah museum di Eropa.

Raden Saleh Syarif Bustaman lahir di Terbaya Semarang pada tahun 1811 dari pasangan peranakan Arab Jawa, Sayid Husen Bin Alwi Bin Awal dan Raden Ayu Sarif Husen. Sejak kecil Raden Saleh tinggal bersama pamannya Raden Adipati Surohadimenggolo seorang bupati Semarang yang terkenal terpelajar.

Sang paman pernah membantu Stamford Raffles menterjemahkan sejumlah teks dari sastra klasik Jawa yang beberapa diantaranya digunakan Gubernur Jenderal Hindia Belanda itu sebagai bahan menulis buku terkenalnua The History of Java. Pada 1822 Raden Saleh didaftarkan belajar di sebuah sekolah bangsawan peribumi yang baru dibuka di Cianjur Jawa Barat. Berkat keluasan pergaulannya Raden Saleh yang bakat menggambarnya sudah terlihat sejak masih muda bisa berkenalan dan belajar kepada A.A.J Payen pelukis Belgia yang didatangkan ke Hindia Belanda untuk melukis pemandangan nusantara.

Pada tahun 1829 atas saran Payen, Pemerintah Hindia Belanda mengirim Raden Saleh ke negeri Belanda untuk belajar seni lukis. Pengalaman belajar serta hidup di negeri Belanda dan sejumlah negara Eropa lain kelak sangat mempengaruhi gaya melukis dan pemikiran seorang Raden Saleh.

Petualangan hidup Raden Saleh di Eropa dimulai di negeri Belanda, lima tahun pertamanya di Eropa digunakan Raden Saleh untuk belajar banyak hal dari memperdalam bahasa Belanda hingga belajar teknik melukis potret pada pelukis istana kerajaan Belanda Cornelis Krusemen serta belajar melukis tema pemandangan pada Andries Schelfhout.

Perlahan nama Raden Saleh mulai dikenal masyarakat Belanda, selain berkesempatan menggelar pameran di Den Haag, Raden Saleh kerap diminta memotret sejumlah anggota kerajaan dan para pejabat kerajaan Belanda. Tak jarang karya karya lukis Raden Saleh membuat masyarakat Belanda terperangah kagum. Saat beasiswa belajarnya habis Raden Saleh mengajukan permohonan untuk tinggal di Belanda dan belajar ilmu ilmu lain.

Pada tahun 1839 pemerintah Hindia Belanda mengirimkan Raden Saleh untuk melakukan perjalanan artisik ke sejumlah negara Eropa. Ia berkunjung dan menetap beberapa bulan di Dusseldorf Frankfurt dan Berlin Jerman sebelum kemudian mengunjungi Dresden dan jatuh cinta dengan kota itu. Raden Saleh memutuskan tinggal di Dresden hingga sekitar 5 tahun di kota itu. Di Dresden pula, ia menjadi tamu kehormatan kerajaan Jerman. Kehadirannya diterima balik kalangan bangsawan untuk pertama kali dalam hidupnya Raden Saleh merasa diperlakukan sederajat sebagai manusia.

Situasi ini membuatnya leluasa menemukan ekspresi artistik dan rasa percaya dirinya sebagai seniman. Raden Saleh juga tak ragu menunjukkan identitasnya sebagai orang Asia, orang Jawa serta sebagai seorang muslim. Selama di Dresden Raden Saleh menjalin persahabatan erat dengan seorang bangsawan terpandang bernama Mayor Friedrich Anton Serres.

Salah satu jejak persahabatan Raden Saleh dengan keluarga mayor Serres bisa dilihat pada bangunan musholla yang dibangun keluarga Serres. Musholla itu memang dibuat untuk menghormati Raden Saleh, di musholla ini terdapat tulisan Raden Saleh dalam bahasa Jawa dan Jerman berbunyi “Hormati Tuhan Cintai Manusia”. Terdorong oleh jiwa artistiknya pada tahun 1845 Raden Saleh pergi ke Prancis dan menetap selama 5 tahun. Di Paris wawasan seni dan pengetahuan Raden Saleh kian bertambah. Ia banyak menyerap pengaruh gaya romantik pelukis legendaris Prancis Eugene Delacroix yang kerap menonjolkan unsur drama dalam lukisan lukisannya.

Pada 1846 bersama pelukis Prancis Horace Vernet Raden Saleh tinggal beberapa bulan di Aljazair. Di daerah koloni Prancis ini Raden Saleh mendapat Ilham untuk melukis adegan perkelahian hewan hewan buas yang menjadi salah satu tema favorit lukisan lukisannya. Selama di Prancis Raden Saleh menjadi saksi revolusi Februari 1848 di Paris yang ikut mempengaruhi wawasan kehidupannya. Di Prancis Raden Saleh tiga kali menggelar pameran, karya karya diterima baik oleh penikmat seni dan kritikus di negara itu. Saat akhirnya pulang ke Hindia Belanda pada 1851 Raden Saleh sudah menjadi pribadi baru. Raden Saleh menjelma sebagai manusia dengan pikiran dan perilaku modern. Pulang dari Eropa dan tinggal di Batavia Raden Saleh yang bekerja sebagai pelukis dan konservator lukisan pemerintah kolonial Hindia Belanda merasa terasa terasing dengan lingkungannya. Sebagai seorang yang menyerap budaya dan kehidupan Eropa oleh orang orang Belanda di Nusantara, dia tetap dianggap sebagai seorang pribumi yang tidak sederajat dengan orang Eropa. Sementara saat bergaul dengan masyarakat pribumi baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat jelata, Raden Saleh juga kesulitan mendapatkan lawan bicara yang bisa mengimbangi tingkat pengetahuan dan pendidikannya. Kondisi ini membuatnya sangat kesepian.

Pada tahun 1855 Raden Saleh menikah dengan Constancia von Mansfeldt seorang janda kaya asal Jerman. Pasangan ini kemudian membangun rumah megah di kawasan Cikini. Sayangnya perilaku diskriminatif yang diterima Raden Saleh kemudian menyebabkan ia bercerai dengan Constancia von Mansfeldt. Praktek diskriminasi yang dirasakan Raden Saleh mendorongnya menciptakan sebuah karya lukis yang mengekspresikan kritik atas kolonialisme yang dilakukan Belanda di bumi Jawa atau wilayah Nusantara lainnya. Nuansa kritik ini menurut semua pihak misalnya terasa pada lukisan penangkapan Diponegoro, Sebuah Banjir di Jawa, dan Pertarungan antara Banteng dan Singa.
Pada tahun 1867 Raden Saleh menikah dengan Raden Ayu Danudirja seorang bangsawan dari keraton Yogyakarta dan pindah ke Buitenzorg atau Bogor.

Menjelang akhir hayatnya Raden Saleh sempat ditahan oleh pengusaha kolonial Belanda karena dituduh mengilhami pemberontakan gerakan Ratu Adil di Karawang dan Bekasi pada tahun 1867. Meski perjalanan hidupnya diwarnai kekecewaan dan kesepian hidup Raden Saleh yang dilandasi semangat romantik dan ide kemanusiaan tetap menjadikan dirinya sosok yang dicintai dan dikagumi.

Saat ia meninggal pada 23 April 1880 lebih dari 2000 orang yang berasal dari berbagai etnis dan kebangsaan mengantarkannya ke pemakamannya di Kampung Emang Bogor. Meski meninggal saat ide ide kebangsaan Indonesia belum dikenal bibit bibit cinta tanah air yang ditunjukkan Raden Saleh mengilhami banyak kalangan. Tak berlebihan bila sastrawan Pramoedya Ananta Toer pernah menyebut Raden Saleh sebagai individu nasional pertama di nusantara.

Editor : Redaksi.

Penulis : Tri Sutrisno Rahayu.

Sumber : Dari beberapa sumber.