Jelang Putusan MK, Kumpulan Pemuda Serukan Tolak Perpecahan

0
331

Jakarta.- Indonesia baru saja melewati pesta demokrasi 5 tahunan, yakni pemilihan Presiden dan Wakil Presiden juga para wakil rakyat yang akan duduk di Senayan nantinya. Proses pesta demokrasi yang masuk dalam kategori terbesar di dunia tersebut dengan segala kekuranganya berhasil berjalan cukup aman dan damai berkat kerja keras para penyelenggara KPU, Bawaslu dan TNl-Polri.

Para aktivis mahasiswa dan pemuda menggelar konferensi pers dengan mengangkat tema ‘Tolak Perpecahan dan Galang Persatuan Tangkap Provokator 27-28 Juni’, yang terselenggara di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (27/06/19).

Rahmat Himran selaku Ketua Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) menyatakan, menjelang penutupan pesta demokrasi tersebut, terjadi beberapa peristiwa yang tidak diinginkan, yang disebabkan oleh sekelompok orang yang sepertinya belum memiliki kedewasaan dalam berpolitik dan berdemokrasi.

“Semenjak vooting day yang diselenggarakan pada 17 April 2019 lalu, hasil awal berupa hitungan cepat dari beberapa lembaga survei sudah dapat dikonsumsi oleh masyarakat umum dan dari situ juga sudah dapat terlihat pemenang Pilpres versi hitung cepat, dan mulai saat itu juga narasi kecurangan yang dituduhkan kepada penyelenggara Pemim mulai dilancarkan oleh pihak yang menurut hasil hitung cepat telah kalah,” kata Rahmat.

Selama masa penghitungan suara resmi oleh KPU berjalan, Rahmat menilai, aksi demi aksi dan semburan hoax serta ujaran kebencian berisikan tuduhan kecurangan terus dilancarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Tak jarang berbagai serangan mereka tersebut berhasil mempengaruhi masyarakat akar rumput. Berbagai narasi dibuat-buat seolah-olah terjadi yang dituduhkan oleh sepihak dengan berbagai cara, bahkan sampai menggunakan simbol musyawarah agama bernama Ijtima, tak berhenti sampai disitu, provokasi terhadap masyarakat berupa menghembuskan isu penggerakan People Power juga dilakukan oleh mereka. Berbagai aksi massa maupun penggiringan opini melalui media sosial yang penuh dengan tuduhan dan ujaran kebencian tersebut memuncak, ketika KPU mengumumkan hasil hitungan resmi kepada publik pada dini hari tanggal 21 Mei 2019 dan siangnya masa yang mengatasnamakan pendukung Capres-Cawapres tertentu, berbondong-bondong turun ke jalan dan berunjuk rasa di depan Bawaslu hingga tanggal 21 22 Mei kerusuhan terjadi di beberapa tempat di Ibukota Negara, berbagai fasilitas publik dirusak dan aparat yang sedang berjaga ikut diserang dengan bom molotov, ketapel, batu dan kembang api.

Rahmat menyayangkan adanya penutupan pesta demokrasi yang akhirnya ternodai dengan berbagai aksi kekerasan yang telah memakan korban. “Kini pesta demokrasi tersebut sudah mau mencapai akhir, Capres-Cawapres nomor urut 02 beserta para elitnya telah menempuh jalur kontitusi dengan mengajukan gugatan kepada Mahkamah Konstitusi (MK), namun beberapa kelompok yang mengatasnamakan pendukungnya seperti belum juga bisa menerima kekalahan dan masih terus melancarkan aksi-aksi baik protes di darat maupun penggiringan opini dan hasutan di media sosial,” tambahnya.

Melihat masalah tersebut kami dari aktivis pemuda dan mahasiswa lintas organisasi menyatakan :

1. Mendukung aparat khususnya TNI-Polri yang telah bekerja keras mengamankan proses demokrasi Indonesia 2019.

2. Mendukung sikap Polri yang tidak memberikan izin aksi menjelang putusan Mahkamah Konstitusi.

3. Menyerukan seluruh elemen warga negara agar menghormati keputusan Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga independen dalam memutuskan sengketa Pilpres 2019.

4. Mendukung Polri untuk menangkap para provokator-provokator yang berpotensi memecahkan keutuhan bangsa.

5. Mengajak seluruh elite politik dan elemen warga negara untuk senantiasa mempererat persatuan Indonesia. (Elwan)