WONOGIRI.- Satu lagi jejak peradaban ajaran Agama Islam di Provinsi Jawa Tengah, yaitu adanya Masjid Tiban Wonokerso, yang terletak di Desa Sendangrejo, Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri.

Suara beduk terdengar berkali-kali, kemudian azan Zuhur pun berkumandang di Masjid Tiban, beberapa hari lalu. Suara azan dari masjid berukuran sekitar 7 meter x 7 meter berbahan kayu jati kuno itu terdengar lantang.

Bangunan itu termasuk unik. Sebab, di bagian depan masjid berdinding kayu. Bangunan itu berdiri di atas batu umpal sebagai alas pilar-pilar bangunan. Kemudian di bagian belakangnya berbentuk bangunan tembok yang ukurannya lebih luas.

Rupanya, bagian depan masjid sekaligus tempat imam adalah bangunan kuno. Sedangkan bagian belakang adalah bangunan tambahan. Bangunan kuno itu persis dengan Masjid Agung Demak dalam bentuk mini. Ternyata, bangunan itu merupakan jejak peninggalan Wali Songo.

Takmir Masjid Tiban Wonokerso, Slamet Zainudin menjelaskan, adanya masjid ini tidak lepas dari Wali Songo, yang saat itu hendak membuat masjid Agung Demak. Para anggota Wali Songo itu bersepakat untuk keluar dari Demak ke arah selatan, yaitu ke Wonogiri. Mereka menggunakan rakit dari Demak ke daerah Pulung (Wonogiri), untuk mencari kayu hutan.

“Mereka ke timur menemukan hutan Donoloyo (hutan jati di Desa Watusono, Slogohimo, Wonogiri). Lantas membuat masjid ini yang dinamai Masjid Tiban,” kata Slamet, ditemui di masjid tersebut, baru-baru ini.

Ditambahkan, tujuan hutan Donoloyo muncul setelah mereka bermunajat kepada Allah SWT. Di hutan itu, terdapat kayu jati yang sangat kuat dan cocok untuk bangunan Masjid Agung Demak.

Masjid Tiban yang saat itu berada di lokasi hutan pun ditinggalkan. Sebab anggota Wali Songo harus ke Hutan Donoloyo.

“Masjid ini terlantar karena sudah ditinggal oleh wali, kembali menjadi hutan belantara,” bebernya.

Beberapa waktu kemudian, pecah perang antara Belanda dengan masyarakat. Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa, yang ketika itu melakukan perlawanan ke Belanda berusaha keras mengalahkan.

“Ternyata Raden Mas Said, bala tentaranya hanya sedikit dan peralatannya kalah lengkap. Sehingga lari ke selatan pojok dan bersembunyi di kolong. Setelah aman, dia keluar. Lihat kanan-kiri ternyata ada bangunan (Masjid Tiban tertutup ilalang rimbun),” jelasnya.

Setelah Raden Mas Said menjadi raja dan bergelar Pangeran Sambernyawa di Kadipaten Mangkunegaran di Surakarta, teringat bangunan di hutan yang menjadi tempat persembunyiannya kala perang melawan Belanda. Raden Mas Said mengutus tiga orang utusannya untuk merawat bangunan itu serta membuat perkampungan di sekitarnya.

“Sampai akhirnya menjadi kampung. Hingga saat ini sudah gemah ripah karena tanahnya subur. Dinamakan Wonokerso karena tadinya hutan diizinkan oleh ratu atau raja,” terang Slamet.

Masjid diperkirakan dibangun pada 1479 Masehi. Atau sampai saat ini sudah lebih dari lima abad.

“Masjid ini cikal bakal Masjid Demak,” imbuhnya.

Bangunan itu sampai saat ini masih asli dengan perbaikan minim seperti lantai. Di dalam masjid kuno terdapat empat tiang saka guru, mimbar kuno, dengan pintu ukuran pendek. Sehingga warga yang hendak masuk masjid harus menunduk.

“Pintunya kecil, kalau masuk rumah Allah harus merunduk atau hormat. Tempat imam lebih pendek (artinya) menguasai ilmu atau menep,” tambahnya. mimbar sejak dari dulu. sudah ada mimbar.

Juru pelihara masjid, Warto, mengatakan untuk merawat masjid dilakukan seperti pada umumnya, seperti menyapu dari serambi hingga halaman. Adapun untuk perawatan kayu masjid, pihaknya diberi bahan dari Dinas Purbakala Wonogiri. Bahan itu dicampur dengan air. Kayu digosok dengan air hingga bersih.

“Saya senang sekali bisa merawat dan bisa membersihkan masjid,” kata Warto. (Ak/Ul, Diskominfo Jateng)