0 3 min 7 tahun

Inapos, Jakarta.- Staf Khusus Presiden asal Papua, Lennis Kogoya meminta Kepolisian melepaskan sebelas pelaku perusakan di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Ia juga meminta Kepolisian tidak memproses kesebelas tersangka tersebut secara hukum.

Pada Rabu (11/10) kemarin, kantor Kemendagri diserang massa yang mengatasnamakan pendukung pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Tolikara Papua, John Tabo dan Barnabas Weya. Massa yang menggelar unjuk rasa tersebut menuntut Mendagri mengesahkan pasangan tersebut.

Massa tidak terima terhadap keputusan MK yang tidak memenangkan pasangan calon bupati Tolikara John Tabo-Barnabas Weya dalam Pilkada 2017. Lantaran belum ada kepastian, perusakan terhadap kantor Kemendagri pun terjadi. Sebelas orang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Atas insiden tersebut, Yotham R Wonda, SH yang juga sebagai Anggota DPRD Tolikara merasa kecewa, ia mengatakan, Mahkamah Konsitusi telah menetapkan pasangan No. Urut 1 Usman Genongga Wanimbo, SE.M.Si dan Dinius Wanimbo, S.Sos sebagai Bupati dan Wakil Bupati terpilih periode 2017-2022.

Saat dikonfirmasi melalui telepon soal pernyataan Staf Khusus Presiden Lennis Kogoya, Yotham angkat bicara, yang melakukan pengrusakan itu ialah ASN yang tidak aktif, ASN tersebut ada dari Lani Jaya, Intan Jaya dan Puncak Jaya.

“Aktor yang selama ini dalam kepentingan ialah Staf Khusus Presiden, saya menduga adanya transaksi untuk membuat kericuhan di Mendagri. Kasus semacam ini tidak boleh ada di Papua dan harus tetap diproses yang melakukan anarkisme supaya ada efek jera. Kalau sampai kasus ini dibiarkan maka republik ini tidak akan maju,” ucap Yotham, Jumat (13/10/17).

Semua sudah tahu bahwa sebelas tersangka sudah ditahan, kalau sampai dibebaskan berarti ada sogok menyogok, aturan ini buat siapa sebenarnya. Saya kecewa bila ada yang intervensi dalam kasus itu.

Lennis itu orang yang berambisi ingin menjadi Gubernur di Papua, padahal Lennis itu tidak dikenal di Papua, orang semacam Lennis kita tidak ingin ada di Papua. Kendaraan ia adalah organisasi Barisan Merah Putih yang ada di jalan-jalan, padahal tidak terdaftar di Kesbangpol.

Yotham juga membuka catatan beberapa insiden yang secara terus-menerus di setiap Pilkada, “2009 terjadi pembakaran di kantor KPU Kab. Tolikara aktor utama ialah Wati Kogoya, kemudian yang kedua tahun 2012 Tolikara meledak dengan terjadinya perang suku gara-gara Pilkada, aktornya pun dia yang mengaku-ngaku sebagai Ketua Barisan Merah Putih (BMP). BMP sendiri tidak terdaftar di Kesbangpol Kab. Tolikara. Kegiatan mereka pun tidak jelas, saya tidak tahu apakah di Kesbangpol Provinsi terdaftar atau tidak. Yang saya tahu, di Kab. Tolikara Ormas itu tidak ada sama sekali. Mereka dijalan-jalan saja keliaran untuk kepentingan politik sesaat, kalaupun terdaftar di Kesbangpol saya akan dukung, apalagi untuk persatuan dan kesatuan dalam menjaga NKRI,” tegas Yotham. (Elwan)