IHW: Sudah Waktunya Indonesia Menjadi Negara Utama Industri Halal

0
122

Jakarta.- Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch (IHW) Ikhsan Abdullah memfasilitasi penandatanganan nota kesepahaman antara Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) dengan Japan Indonesia Halal Cosulting Management (JPI) di Hotel Morissey, Jakarta, Senin (6/1/2020).

Ikhsan mengatakan kerjasama ini merupakan bagian dari persiapan Jepang dalam menyambut Olimpiade Musim Panas 2020 di Jepang.

“Pemerintah Jepang secara terbuka dan fokus untuk menyediakan produk halal karena Olimpiade yang akan diselenggarakan di Tokyo bukan hanya dari Asia Pasifik tetapi juga seluruh dunia,” ucap dia.

Ini merupakan program utama Jepang untuk melayani tamu mereka yang datang dari berbagai negara. Jepang mempermudah industri untuk melakukan sertifikasi halal dengan mengizinkan seluruh lembaga Islam di Jepang melakukannya. 

“Salah satunya, Gubernur Tokyo Yuriko Keiko yang menugaskan JIP dengan LPPOM MUI untuk bekerja sama mensertifkasi makanan dan minuman halal yang layak di Jepang,” ujar dia.

Ini merupakan kerjasama keempat yang dilakukan IHW dengan mengikutsertakan lembaga halal di negara lain, selain Jepang, tiga negara lainnya adalah Thailand, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan.

Dengan berbagai kerjasama ini Ikhsan berharap Indonesia dapat menjadi titik sentral pengakuan dunia sebagai negara yang melakukan sertifikasi halal untuk mengembangkan industri halalnya di dunia.

Selain itu, Ikhsan juga mengusulkan pemerintah Indonesia memiliki skema pencatatan produk halal di Indonesia sehingga pertumbuhannya dapat direkam dengan baik.

“Ini tantangan ke depan pemerintah bahwa industri halal ini agar ditangani dengan baik sehingga data keluar masuk barang terkait industri halal ini tercatat,” kata Ikhsan di Jakarta, Senin.

Menurut dia, pencatatan data ekspor impor khusus industri halal akan meningkatkan reputasi Indonesia di kancah global. Sejauh ini belum ada pihak yang mencatat secara khusus sehingga reputasi industri halal di Indonesia dicitrakan lesu.

Baru-baru ini, Laporan Ekonomi Islam Global 2018/2019 oleh Thomson Reuters-DinarStandard menunjukkan Indonesia masih menjadi negara konsumen halal dibanding sebagai produsen.

Dengan kata lain, Indonesia masih menjadi importir produk barang dan jasa halal padahal potensi pasarnya sangat besar menilik jumlah populasi Muslim berikut modal sosial dan sumber daya manusianya.

“Indonesia disebut Thomson Reuters sebagai negara konsumer pertama di dunia menghabiskan belanja 171 miliar dolar AS. Kenyataannya Indonesia itu juga mengekspor lebih besar dari itu,” jelasnya.

Ini waktunya Indonesia masuk ke arah sana menjadi negara utama industri halal dengan industrinya halalnya berkembang, keuangan syariahnya berkembang, tetapi pencatatan lebih penting. (El)