IHW : Sigapnya Kementerian, Sehingga Tidak Terjadi Lonjakan Harga

0
77

Inapos, Jakarta.- Setiap jelang Ramadhan dan Idul Fitri harga beberapa komoditas seperti bawang merah, bawang putih, cabai, telur, daging ayam, daging sapi dan sayuran selalu bergejolak setiap. Dari tahun ke tahun, kita selalu menghadapi persoalan yang sama, kita seperti tidak pernah memiliki kemampuan untuk mengatasinya sehingga keadaan berulang.

Di berbagai daerah di Indonesia yang merupakan negara kepulauan ada berbagai tradisi atau kebiasaan dalam menyongsong bulan Ramadhan dan Idul Fitri misalnya di Jawa ada istilah Mapag Tanggal, di Cirebon dan Jawa Barat ada istilah Cucurak, Meugang di Aceh, Tapur di Ambon dan lain-lain, yang semuanya memerlukan perhatian khusus untuk menyelenggarakan acara-acara dimaksud sehingga terganggunya matarantai distribusi untuk beberapa waktu karena masyarakat terkonsentrasi yang berakibat pada melonjaknya harga-harga kebutuhan tersebut. Disinilah diduga munculnya spekulan yang memanfaatkan keadaan ini untuk bisa meraup keuntungan yang lebih tinggi.

Dalam hal ini Indonesia Halal Watch (IHW) sebagai organisasi yang konsen dalam mengawasi kebijakan atau policy halal, tertarik untuk memberikan masukan kepada pemerintah agar melakukan reorientasi kebijakan agar mampu mengatasi keadaan ini, yang kami sebut sebagai policy halal atau konsep kebijakan halal sehingga menjadi terang dimana muara persoalanya.

Direktur Eksekutif IHW Dr. Ikhsan Abdullah S,H., menyoroti Kementrian Pertanian dan Perdagangan perannya sangat vital dan menentukan, seberapa besar pasokan dari dalam negeri dapat memenuhi kebutuhan di bulan yang penting tersebut.

“Kementrian Pertanian harus menghitung besarnya kebutuhan masyarakat atas barang-barang komoditas pokok tersebut, per orang per hari sehingga dapat dihitung perkiraan kebutuhan yang mendekati angka ril. Misal, satu orang dua buah cabe dan satu siung bawang putih dan satu siung bawang merah di kali per hari di kali 250 Juta penduduk sehingga bisa diperkirakan jumlah yang harus disiapkan ketersediaan untuk masing-masing komoditas tersebut. Kementrian Pertanian yang harus menggerakan para petani untuk memacu produksi dan kewajiban Menteri Perdagangan untuk membeli hasil produksi petani tersebut yang dilakukan melalui Bulog, sekaligus menyiapkan Buffer Stock sehingga terjaga besarnya pasokan dan kemungkinan lonjakan permintaan,” ucap Ikhsan dalam keterangannya, Selasa (07/05/19).

Dengan demikian secara otomatis dapat menekan guncangan harga dan importasi terhadap barang-barang komoditas tersebut, juga dapat menekan angka importasi, yang dapat menekan inflasi dan tekanan terhadap rupiah.

Dengan melihat tren pola makan yang berubah pada bulan Ramadhan dan dari tiga kali sehari menjadi 2 kali sehari yaitu makan sahur dan buka puasa. “Seharusnya tren terhadap konsumsi komoditas andalan tersebut juga menurun tidak meningkat sehingga pola relasi bahwa kebutuhan atas komoditas tersebut meningkat pada bulan Ramadhan dapat dibantahkan, asalkan jumlah pasokan tersebut continuous dan terstock dalam gudang-gudang yang tersebar di seluruh Indonesia untuk menjaga kelancaran distribusi,” tambahnya.

Sejauh ini, lanjut Ikhsan, Kementrian Perdagangan tidak memiliki pergudangan yang baik sehingga tidak dapat di monitor berapa stock yang tersedia karena tidak memiliki buku gudang atau ‘Inventory Stock’, sehingga perencanaan penyediaan kebutuhan hanya didasarkan atas perkiraan. Sebagai negara besar dengan penduduk besar, buffer stock dalam bentuk gudang dan buku gudang untuk semua komoditas wajib dilakukan.

Ia melihat, saat ini keadaan dan data gudang cenderung terabaikan, ini hasil dengar pendapat antara Komisi VI DPR RI dengan Kementrian Perdagangan yang terungkap beberapa waktu lalu. “Akibatnya komoditas tersebut menjadi bahan spekulan para pemodal untuk ikut memainkan harga komoditas tersebut di pasar,” ungkapnya.

Menghadapi awal Ramadhan dan persiapan Idul Fitri masyarakat Indonesia memang cenderung untuk menyambut dan mempersiapkannya dengan baik dan penuh sukacita, didahului dengan persiapan menyetok beberapa komoditas tersebut untuk satu hari hingga satu pekan. Inilah yang harus diantisipasi lonjakan permintaan di awal-awal Ramadhan dan satu pekan menjelang dan sesudah Idul Fitri pasokan atas komoditas tersebut harus terjaga dan distribusinya dapat dipastikan sampai ke pasar tradisional, sehingga lonjakan dan kelangkaan atas komoditas tersebut dapat dihindari.

“Masyarakat bersyukur pada Ramadhan tahun ini, Kementrian Pertanian sangat sigap mengatasi gejala kekurangan pasokan atas daging ayam, bawang merah dan bawang putih sehingga lonjakan dan kepanikan pasar dapat diatasi dengan melakukan penetrasi pasar atas jenis komoditas tersebut, dengan melakukan importasi atas barang-barang komoditas tersebut dan harga-harga dapat ditekan sehingga tidak terjadi lonjakan kenaikan harga,” imbuh Ikhsan yang juga seorang Praktisi Hukum.

IHW menilai, beberapa poin tersebut diatas adalah sebuah pemikiran yang dapat dijadikan pertimbangan untuk menyusun kebijakan strategis bagi Kementrian Pertanian dan Kementrian Perdagangan, sehingga masyarakat Indonesia khususnya umat Islam dapat memperoleh kenyamanan dan keamanan atas barang-barang komoditas dimaksud. (Elwan)


Komentar Anda?