Hati-hati Dengan Kelompok Dakwah yang Tulus

0
424

Penulis : *Moeflich H. Hart*

Kelompok-kelompok dakwah yang tulus, siapa dan yang mana saja, yang hati-hati mereka tulus dan semangat penuh ghirah ingin membesarkan Islam agamanya, tapi mereka dimusuhi oleh kelompok-kelompok lain hanya karena perbedaan persepsi atau perbedaan orientasi dakwah.

Maka permusuhan kelompok-kelompok yang memusuhinya itu, bahkan mungkin permusuhan oleh negara, tanpa sadar, itu cara Allah memberi dukungan kepada kelompok-kelompok dakwah itu, itu cara Allah membesarkan mereka.

Logikanya begini. Allah mencintai ketulusan dan keikhlasan, Allah tak melihat bentuk pemikiran, tak melihat salah benarnya pemahaman, itu manusiawi, Allah memakluminya. Tapi ketulusan atas agamanyalah yang Allah sukai karena ketulusan itu mahal, karena keikhlasan itu ruhnya ibadah. Kata santri, “al-ikhlas ruhul ‘ibadah.”

Nah, ketulusan dan keikhlasan yang Allah suka dan ridha kepada mereka, yang Allah memberikan kredit poin kepadanya, tapi malah dibenci oleh sesama manusia, dibenci oleh kelompok2 lain yang tak sepemikiran, tak sefaham, apalagi dasar dan kepentingannya duniawi, urusan dunia seperti kepentingan kelompok dan kekuasaan politik.

Nah, ketika kelompok tulus itu dimusuhi, diperangi dan dianiaya, dan hati-hati mereka merasakan sakit, apalagi sakit hatinya itu sampai mereka menangis, maka sakit-sakit hati mereka itu jadi do’a, sedangkan do’a yang teraniaya tak ada jarak antara mereka dengan Allah. Allah mengabulkan mereka dan menjadi pelindung mereka. Ingat, sekali lagi, Allah tak melihat salah benar pemahaman dan pemikiran, itu relatif, tak ada manusia yang paling pintar, maka Allah tak melihat itu, maka Allah melihat ketulusan dan keikhlasan hatinya memperjuangkan agama-Nya. Barang siapa menolong agama Allah pasti dan pasti Allah akan menolong mereka.

Itulah makanya, banyak kelompok dakwah yang dimusuhi, disudutkan, diserang, mereka diklaim salah menurut pemikiran dan tafsir manusia, tapi mereka malah terus membesar, semakin dicintai, malah semakin kuat dan semakin luas pengaruhnya. Kita tak sadar, mereka memiliki kekuatan sederhana tapi kuat, yang Allah berada di belakang mereka: ketulusan dan kecintaan pada agamanya.

Hati-hatilah kepada orang-orang atau kelompok-kelompok dakwah yang tulus ikhlas, jangan melihat salah benarnya mereka, karena seseorang yang ibadahnya salah kata orang pinter tapi dia ikhlas menyembah Allah dengan keterbatasan ilmunya, Allah akan mencintainya dan menjadi pelindungnya.

Siapa sajakah mereka yang tulus ikhlas atau “minal mukhlisin” itu? Siapa saja yang mencintai Allah dan menjadikan Allah nomor satu dalam hati dan pikirannya. Mereka itu bisa individu, bisa kelompok, bisa jamaah, bisa organisasi atau lembaga.

Mereka bisa ada di mana-mana. Mereka bisa di NU, di Muhammadiyah, di Persis, di PUI, di Syarikat Islam, di Tarbiyah Islamiyah, di Mathlaul Anwar, di Jamiatul Wasliyah, di FPI, di HTI, di PKS, di PBB, di PKB atau di PPP. Mungkin mereka pejuang tradisi Islam, pejuang kemajuan Islam atau pejuang tegaknya syariat Islam.

Allah tak melihat organisasi dan lembaga mereka. Bagi Allah itu tak penting, itu hanya kulit dan bungkusnya. Allah hanya melihat hati-hati mereka. Allah hanya menjumpai isi-isi hati mereka. Sebab, dengan hati, tak ada jarak antara Dia dan hambanya. Hati adalah tempatnya Allah bersemayam di dalam dada-dada hamba-Nya.