GMBI : Tutup Stokfile Batubara di Cirebon

0
574

INAPOS, KABUPATEN CIREBON,- Batubara, hasil tambang yang banyak dibutuhkan bahkan menjadi primadona eksport bangsa ini. Puluhan Stokfile (penyimpanan sementara) batubara berjejer disepanjang jalan Pantura Cirebon – Brebes, menjadi penyuplai batubara ke wilayah luar Kabupaten Cirebon, Bandung bahkan eksport.

Namun keberadaan Stokfile batubara ini alih-alih menguntungkan justru lebih banyak merugikan warga sekitar bahkan tidak menguntungkan secara Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Cirebon.

Umar Ali Bakhri (43), Sekretaris Desa Bendungan, menuturkan, limbah dalam bentuk debu dari batu bara dari sejumlah gudang (stockpile), yang berdekatan dengan pemukiman penduduk sudah sangat mengganggu. Setiap musim kemarau saat angin berhembus kencang, debu batu bara masuk ke rumah-rumah warga.

Sekdesa Bendungan (Kiri) bersama Murtado.

“Sudah lama, warga desa kami mengeluh, tapi mau ngeluh kesiapa, atas dampak lingkungan dan kesehatan dari limbah batu bara dari enam (6) Stockpile,” kata Umar pada Inapos, Kamis (3/10)

Umar berharap instansi pemerintah yang memberikan izin berdirinya banyak Stockpile agar mengkaji ulang. Pasalnya, dampak keberadaan stockpile itu lebih banyak membawa madharat daripada manfaatnya bagi masyarakat sekitar.

“Tolong di kaji ulang, keberadaan stockpile batu baru, kami berharap pada Pemkab Cirebon dan Pemprov Jabar agar menutup stockpile batu bara yang sudah sangat merusak lingkungan dan kesehatan,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan tokoh masyarakat setempat, Murtado (43). Selain mengganggu kenyaman dan kesehatan warga sekitar,  ceceran batu bara juga merusak lahan pertanian di lingkungan stockpile. Bahkan disebutnya debu dan ceceran batu bara mengurangi produktifitas tanaman pertanian mereka.

“Kami minta penutupan stockpile batu bara, kami minta pada pada para anggota Dewan dan Dinas Lingkungan Hidup turun ke lokasi yang terdampak limbah batu bara,” ujar Murtado

Selain itu Murtado juga mengungkapkan bila dampak lingkungan sudah dirasakan warga dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari penyusutan debit air saat musim kemarau dan terjadi perubahan air yang awalnya jernih menjadi keruh dan berbau pada saat musim hujan.

“Dalam beberapa tahun terakhir, dampak negative dari berdirinya stockpile sangat dirasakan warga kami, mulai dari penyusutan debit air juga perubahan kejernihan air dan berbau, kami mohon ada penutupan stockpile batu bara yang berdekatan dengan pemukiman,” harap tokoh masyarakat Desa Bendungan, tersebut

Satori, Ketua KSM GMBI Pangenan

Di tempat terpisah, Satori (47), salah seorang aktivis lingkungan di Cirebon, mengaku sangat prihatin, karena limbah batu bara merupakan salah satu limbah beracun dan berbahaya, sehingga perlu ada tindakan dari Pemerintah agar masyarakat tidak dirugikan dari sisi lingkungan Hidup maupun kesehatan.

“Kami akan berkirim surat pada DPRD Kabupaten Cirebon, untuk meminta audensi, kami dengan masyarakat Desa Bendungan dan masyarakat Kecamatan Pangenan yang terdampak limbah batu bara, agar ada solusi, jika perlu ditutup saja semua stockpile batu bara, karena sangat berbahaya bagi masyarakat,” demikian Satori.

Stokfile Batubara tidak memberikan masukan PAD

Kepada Inapos, anggota DPRD Kabupaten Cirebon dari PDI-P Aan Setiawan ketika dikonfirmasi melalui pesan Whatsappnya pada Kamis (03/09/2019).

“Kalau memang stokfile ngga ada izinnya harus segera di tutup. Dan kalau ada izinnya kita liat amdalnya, apakah sudah sesuai,” jelas Aan.

Saat ditanyakan akankah ditinjau segala sesuatunya oleh anggota DPRD yang baru, Ia memastikan ya.

“Ya wajib di tinjau. Karena keberadaan stokfile batubara tidak ada kontribusi PAD buat pemda,” jawabnya.

Bertahun-tahun keberadaan stokfile tidak ada asupan ke PAD. “Sama sekali ga ada. malah hanya merugikan warga sekitar dengan ada nya polusi debu,” tutup Aan.