Gerakan WDT Tolak Hasil Pemilu, “Revolusi Rebut Kedaulatan Rakyat”

0
172

Inapos, Jakarta.- Sejumlah tokoh yang menamakan Gerakan We Don’t Trust menyampaikan sikap menolak hasil Pemilu 2019.

Agenda tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional diantaranya Habib Umar Al Hamid, Eggy Sudjana, Amir Hamzah, Letjen TNI (Purn) Syarwan Hamid, Mayjen (Purn) Kivlan Zein, Permadi Satrio Wiwoho, Habib Muhsin Al Attas dan lainnya.

Dalam penyampaiannya, Habib Umar mengatakan, carut marut Pilpres yang dinilai jujur dan adil, namun tidak sesuai keinginan masyarakat. Mudah-mudahan dalam pertemuan ini memberikan solusi bagi anak-anak bangsa, yang dimana saat ini mereka tersakiti akan terobati.

“Tetapi kita lihat saat ini, permainan yang sistematik, terstruktur dan masif membuat orang tidak mempercayai lagi penyelenggara Pemilu,” katanya di Roemah Rakyat, Tebet, Jakarta, Minggu (05/05/19).

Ditempat yang sama, Habib Muhsin juga menilai, tahun politik 2019 bukan semata-mata urusan Pileg dan Pilpres, tetapi 2019 adalah penentuan nasib bangsa. Apakah masih menjadi bangsa yang berdaulat atau menjadi bangsa yang terjajah, tertindas dan menjadi yatim piatu di negerinya sendiri?, jawabannya adalah kemenangan rakyat di 2019.

Rakyat kita sekarang sedang dihadapkan kekuasaan yang didominasi oleh sebuah kaum yang sudah tidak punya lagi nasionalisme, jadi dalam menjalankan kekuasaannya tidak peduli lagi dengan Pancasila sebagai dasar negara dan UUD 1945. “Itu sudah di abaikan bahkan di injak-injak dan dilanggar, sedangkan rakyat yang menuntut keadilan dikatakan sebagai radikalisme, anti Pancasila bahkan dituduh sebagai orang yang ingin melakukan makar,” tegasnya.

Ia juga menambahkan, dengan diselenggarakannya Pilpres dan Pileg yang penuh dengan rekayasa dan kecurangan yang luar biasa terstruktur, masif dan brutal. Maka agenda ini menyadarkan rakyat untuk merebut kembali kedaulatannya.

Mantan Mendagri pada Kabinet Reformasi Pembangunan yaitu Syarwan Hamid, menjelaskan dirinya pernah mengatakan pada Gatot Nurmantyo dan Prabowo, kalau saya terlibat dalam gerakan ini saya hanya ingin bangsa ini selamat. “Saya sebagai saksi sejarah pada 1965 dimana PKI waktu itu sangat menginginkan merebut kedaulatan bangsa Indonesia, kini indikasi itu terbaca sangat jelas. Dulu saya pelajari negara Nepal bagaimana bisa menjadi negara komunis yang sebelumnya kerajaan, Tibet dari negara agama menjadi komunis,” ungkapnya.

Kita lihat banyaknya buruh China, sambung Letjen TNI (Purn) Syarwan Hamid, mereka bukan hanya buruh biasa melainkan mereka sudah dilatih salam gerilya expert dan intelijen expert. Maka apabila Jokowi menang, negara ini akan bertekuk lutut kepada China.

Menariknya, Permadi meyakinkan dalam spiritual pengalaman pribadinya, ia menerangkan, dunia memasuki akhir zaman. Terlepas percaya atau tidak, saya telah meyakini seperti nubuat Tuhan. Tuhan telah mengutus dua utusan sekaligus, pertama Tuhan mengutus Mesias (Imam Mahdi-red) dan Dajjal.

Mesias mewakili budi luhur dan Dajjal mewakili angkara murka, keduanya diturunkan di tanah Jawa. Karena Jawa akan menjadi mercusuar dunia, Mesias dan Dajjal masing-masing bekerja saling menjatuhkan, menghancurkan dan memusnahkan. Tetapi Tuhan memenangkan Mesias karena budi luhur, sehingga masyarakat adil dan makmur di seluruh dunia.

“Saya berani menyatakan, bahwa Jokowi adalah Dajjalnya. Karena, pertama saya yang membantu dia untuk menjadi Walikota Solo, tapi dia mengkhianati saya. Lalu mengkhianati Prabowo saat dia dijadikan Gubernur DKI Jakarta langsung menjadi Presiden dan tidak ada yang berani melawan, mengalahkan dan menggagalkan,” tukas Permadi dalam spiritualnya.

Setelah itu kejahatannya memuncak, dia menjual bangsa dan negara. Menjual kekayaan alam, hutangnya luar biasa sehingga tidak terbayarkan. Itu dilakukannya untuk mempertahankan kekuasaannya dengan menipu rakyat dengan kecurangan. Orang yang tak kuat dengan kemiskinan, hingga bergabung dengan mereka. Kita lihat mahasiswa yang dulunya hebat membela rakyat, sekarang mereka diam sekalipun melihat rakyat menderita kelaparan.

Dia juga menegaskan, sekarang Tuhan sedang memisahkan, antara yang ikut Mesias dan Dajjal. “Kata orang Jawa, batuk bisa sembuh tetapi kalau watak itu tidak bisa sembuh, maka itu Jokowi tidak akan taubat malah semakin menjadi-jadi. Semakin curang bersama Moeldoko, Luhut, Hendropriyono, Megawati dan lainnya. Maka untuk itu, kita harus berani revolusi, sebelum bung Karno meninggal ia mengatakan hai bangsaku, bangsa Indonesia, Revolusi belum selesai,” tutupnya. (Red)


Komentar Anda?