GEPRINDO : Kecurangan Besar itu Ada Pada Penggelembungan DPT

0
343

Inapos, Jakarta.- Presiden Gerakan Pribumi Indonesia (Geprindo) Bastian P Simanjuntak, mengatakan adanya kecurangan dalam Pilkada serentak kemarin, kalau daerah mau menang maka Jabar dan Jateng harus banyak belajar dari kemenangan Anies-Sandi di Jakarta, bukan bermaksud untuk memuja-muji tim pemenangan Anies-Sandi, namun saya ingin menyampaikan bahwa tim daerah khususnya Jateng dan Jabar harus mewaspadai menggelembungnya nama-nama siluman yang terdaftar dalam DPT.

“Berdasarkan pengalaman di Jakarta, banyak pemilih siluman yang muncul sejak dikeluarkannya Daftar Pemilih Sementara (DPS) oleh KPU Jakarta. Bayangkan saja temuan indikasi pemilih siluman sebanyak 900.000 sampai dengan 1,4 juta nama, temuan sebanyak itu tidak mungkin di temukan dengan penelusuran secara manual, harus ada software canggih yang searchingnya bisa di setting parameter tertentu sehingga dalam waktu singkat bisa ditemukan data2 yang tidak sesuai.  Kasus pemilih siluman di Jakarta yang terdaftar dalam DPS diantaranya ada NIK ganda, pemilih tanpa KK, nama/orang sama namun beda alamat, 1 nomor KK namun beda pemilih, pemilih lahir di masa depan,” kata Bastian dalam rilisnya, Sabtu (30/06/18).

Jika tim pemenangan tidak bisa mendeteksi pemilih siluman dalam DPS maka dapat dipastikan pemilih siluman tersebut lolos dan terdaftar di DPT, jika demikian maka pemilih siluman resmi terdaftar dalam DPT di setiap tps yang tersebar di pelosok-pelosok daerah, kalau itu terjadi maka sangat sulit bagi saksi2 di tps untuk menemukan kecurangan di tps, karena pemilih siluman terdaftar sebagai pemilih resmi.

Jumlah TPS di jawa barat pada pilkada serentak  2018 yaitu 74.945, jika kita berandai-andai jika setiap tps ada 20 pemilih siluman maka penggelembungan suara bisa mencapai hampir 1,5 juta pemilih siluman. Untuk menguji dugaan ini, lanjut Bastian, “saya sarankan agar tim pemenangan Jabar dan Jateng mengecek kembali dengan menggunakan software yang canggih data DPT, mudah-mudahan terkuak modus kecurangan yang dilakukan oleh hantu-hantu demokrasi yang selalu bergentayangan di setiap momen pesta demokrasi,” tutupnya. (Elwan)