FSI : 313 Adalah Kegagalan Demokrasi

0
152

Inapos, Jakarta.- Bertepatan dengan tanggal 31 Maret 2018 ini adalah merupakan momentum setahun peringatan atas perjuangan, ‘Gerakan Ummat Islam 313’. Dimana pada 31 Maret 2017 yang lalu telah di tangkap dan diamankan 5 orang Aktifis Islam dengan tuduhan akan melakukan makar.

Peringatan Setahun Gerakan 313 ini juga akan terus dijadikan sebagai spirit untuk meningkatkan semangat perjuangan untuk tidak pernah surut dan padam, “secara perjuangan kami tidak pernah surut dan padam,” Tegas Panglima FSI Diko Nugroho pada acara Peringatan 1 Tahun Gerakan Ummat Islam 313 di Sekertariat Forum Syuhada Indonesia, Jakarta Pusat, pada Sabtu (31/03/18).

Untuk mengingat semangat perjuangan dan spirit Gerakan 313 ini, maka Forum Syuhada Indonesia (FSI) melaksanakan Peringatan 1 Tahun perjuangan aktifis 313 yang di pusatkan di Masjid Al-Fatah Kawasan Menteng Raya 58 yang juga merupakan Markas dari Forum Syuhada Indonesia dengan melaksanakan Doa untuk keselamatan bangsa dan para Ulama serta aktifis Islam.

Acara juga diisi dengan testimoni dari pelaku sejarah Pada 31 Maret 2017, Santunan kepada anak Yatim dan pemberian Piagam Penghargaan kepada Perwakilan Pengacara Makar, yang diwakili oleh Ibu Dahlia Zen yang berikan langsung oleh Ketua Umum Forum Syuhada Indonesia Ustadz KH. Drs. Hasri Harahap.

Pada kesempatan Momentun 1 Tahun Gerakan Ummat Islam 313 ini Panglima FSI juga menyampaikan bebeberapa Pesan terkait peringatan Momentum 313 ini. Pesan yang sampai diacara ini Pertama adalah, “kami bagian dari sejarah dan Fakta bangsa ini, Kedua 313 adalah rangkaian dari Gerakan 411, 212 dan 313 yang itu masih didalam semangat Spirit Al-Maidah,” lanjut dari Panglima FSI yang merupakan 1 dari 5 orang yang ditangkap pada 31 Maret 2017 yang lalu.

Selain itu Panglima FSI juga menyampaikan rasa syukurnya karena sampai saat ini masih diberikan keselamatan, “kami masih selamat dan bersyukur sehat wal’afiat,” sambung Diko Nugroho kembali.

Pada peringatan setahun Gerakan Ummat Islam 313 ini 5 orang yang diamankan oleh aparat Kepolisian ini berharap juga agar bisa dikembalikan nama baiknya. “Kedepan harapan kami adalah bahwa nama baik kami akan kembali dibersihkan,” tutup Panglima FSI.

Selain itu juga Dewan Penasehat FSI, Yudi Syamhudi Suyuti menjelaskan, saat ini sejak penangkapan yang akhirnya bebas, pada akhirnya semua terbuka dan telanjang. Apa sebenarnya yang terjadi.

Sudah jelas, “akhirnya Rezim Jokowi dan Kongsi Konglomerat Taipannya berkehendak berkuasa absolut. Menjadi satu jalan dan satu arah ke dalam tatanan Globalisasi Cina yang dimanifestasi melalui OBOR (One Belt One Road). Dimana jargon OBOR menegaskan, One State, One Policy,” ujarnya.

Perjuangan FSI saat setahun lalu adalah perjuangkan kedaulatan pribumi. Akan tetapi justru dituduh MAKAR. Sebuah kata yang mengerikan untuk di eja dan dimaknai karena pandangan tentang pengkhianatan. Lalu siapa sebenarnya yang berkhianat.

Padahal, terang Yudi, secara hukum yang paling mendasar telah dinyatakan melalui sejarah Kebangkitan Nasional. “Bahwa Nasionalisme Indonesia adalah Nasionalisme Pribumi. Ini diwujudkan melalui lahirnya Budi Utomo yang kemudian diteruskan dalam Kongres Pemuda 1928 yang keputusannya adalah, Indonesia berbangsa, berbahasa dan bertanah air satu,” pungkas Yudi yang juga sebagai Aktifis.

Rezim Jokowi telah gagal memaknai hukum sejarah dan hukum materil tentang perjuangan FSI saat itu yang membuat 5 aktivis ditangkap, dipenjara dan dibusukkan nama serta dimatikan cara berpikirnya Selain itu juga, Rezim Jokowi telah gagal mempraktekkan Demokrasi. Padahal demokrasi adalah alat perjuangan kami. Bersamaan dengan itu, Rezim Jokowi tercatat sebagai Pelanggar Hak Azasi Manusia.

“Atas dasar-dasar faktual yang terjadi ini, sudah saatnya kita tegaskan sikap bahwa Jokowi tidak layak dipilih kembali sebagai presiden,” tutupnya. (Elwan)


Komentar Anda?