Film “Detak” Karya Aenigma Picture Ubah Paradigma Tari Lengger

0
985

Tangerang.- Selain memiliki keindahan alam, Banyumas juga menyuguhkan seni tari tradisional yang berusia ratusan tahun, yaitu tari ‘Lengger’. Tarian ini terus bertahan sampai saat ini di tengah beragamnya hiburan modern.

Lengger atau disebut juga Ronggeng adalah kesenian asli Banyumas berupa tari tradisional. Penarinya ada yang seorang lelaki yang menari dan didandani serupa wanita dengan pakaian khasnya. Kesenian Lengger Banyumas ini diiringi oleh musik Calung, Gamelan yang terbuat dari bambu.

Dalam melestarikan budaya lokal, Aenigma Picture akan mengangkat film layar lebar perdananya berjudul ‘Detak’ yang rencananya akan ditayangkan pada Maret 2020.

Sutradara film Detak, Yongki Ongestu mengatakan bahwa proses syuting film Detak mengusung gerakan Zero Waste. Selama produksinya di Desa Serang, Purbalingga, para crew dan pemain berkomitmen untuk mengurangi pemakaian wadah dan alat makan sekali pakai.

Menurutnya, “akan ironis jika film Detak yang mengangkat budaya tari Lengger Banyumas justru diproduksi dengan cara yang tidak berbudaya, yaitu menghasilkan sampah yang berlebihan,” kata Yongki dalam bincang santai bersama awak media, di wilayah Alam Sutera, Tangerang, Kamis (19/12/2019).

Selain itu, sambung Yongki, seluruh tim dibagikan botol minum untuk mengisi ulang air minum dan cangkir besi untuk menyeduh kopi. Setiap crew yang merokok juga diwajibkan membawa wadah untuk menampung puntung rokok sehingga tidak mengotori lokasi syuting.

Film yang bergenre drama misteri ini, akan dibintangi oleh Refal Hady dan Della Dartyan. “Proses persiapan film pun cukup intensif yaitu 60 hari,” ujarnya.

Sementara Aryanna Yuris yang merupakan Produser Aenigma Picture menjelaskan, Della Dartyan yang memerankan karakter Sukma. Dirinya menghabiskan waktu untuk belajar tari Lengger dari penari tradisional Banyumas, Della juga tinggal di rumah warga untuk mempelajari keseharian dan logat daerah demi perannya yang maksimal.

“Begitu juga dengan Refal Hady yang memerankan seorang Dokter psikopat bernama Jati. Ia mempelajari teknik bedah dan bertransformasi secara emosional untuk mendalami peran sebagai seorang psikopat. Refal mengakui, dirinya butuh waktu 2 bulan untuk benar-benar lepas dari karakter Dokter Jati,” ungkapnya.

Film Detak telah mengunjungi beberapa sekolah dan universitas untuk berbagi ilmu seputar teknik pencahayaan film, sekaligus berbagi tentang gerakan Zero Waste sebagai upaya mendorong pekerja kreatif agar lebih memperhatikan lingkungan.

Aenigma Picture berkomitmen untuk berbagi kepada sesama pekerja kreatif dengan melibatkan seniman-seniman di dalam produksi Film Detak.

“Sedangkan mayoritas crew dan pemain pendukung film Detak adalah pekerja kreatif yang belum pernah terlibat dalam produksi film layar Iebar sebelumnya. Sebagian besar pun adalah pekerja kreatif dari wilayah Banyumas,” lanjut Aryanna.

Kami percaya bahwa ada banyak potensi yang bisa digerakkan dan lewat film Detak, kami berharap akan banyak pekerja reatif daerah yang unjuk gigi dan meratakan penyebaran ekonomi kreatif di Indonesia.

Pekerja kreatif modern untuk pekerja kreatif tradisional. Kami percaya bahwa seni modern dan tradisional dapat dipadukan dan lewat film Detak, kami berharap dapat membawa dampak positif untuk penari Lengger dan pemain calung tradisional.