Festival KLA 2018: Komitmen Daerah Wujudkan Idola

0
199

BANDUNG, INAPOS – Ketahanan ekonomi keluarga akan sangat mempengaruhi kualitas keluarga demi mencetak anak bangsa yang sehat, cerdas, ceria, berakhlak mulia, dan cinta tanah air. Diperlukan sinergitas dan perjuangan bersama antara kaum perempuan dan laki – laki, Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media, dan perguruan tinggi yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program dan kegiatan untuk menjamin pemenuhan hak anak dan perlindungan khusus anak yang diwujudkan dalam bentuk Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA).

“Dalam melaksanakan pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak melalui KLA, kita harus memastikan bahwa hak-hak anak Indonesia tercapai, antara lain melalui pelayanan akta kelahiran, pelayanan konseling keluarga diantaranya melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA), dan kiprah partisipasi anak melalui Forum Anak, yang diberi peran sebagai Pelopor dan Pelapor (2P). Seluruh sarana prasarana yang tersedia juga harus ramah anak, seperti sekolah, rumah sakit, dan taman bemain. Hal yang juga tidak boleh kita lupakan adalah bagaimana anak-anak yang sudah menjadi korban kekerasan terlayani dengan baik melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA),” ujar Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise pada Festival KLA 2018 di Bandung, Jawa Barat.

Dalam Festival KLA 2018, kita dapat melihat bentuk-bentuk pengembangan Sekolah Ramah Anak, Puskesmas dengan Pelayanan Ramah Anak, Pusat Kreativitas Anak serta bagaimana anak mendapatkan Informasi Layak Anak melalui Pusat Informasi Sahabat Anak (PISA) dan berbagai bentuk layanan lainnya yang semuanya harus ramah anak.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengatakan bahwa selama masa kepemimpinannya 5 tahun ke depan, 27 Kabupaten/Kota di Prov. Jawa barat berkomitmen harus masuk zona hijau KLA. Namun selama ini, Jawa Barat sedang dihadapkan pada tiga masalah utama, satu di antaranya adalah tingginya angka gizi buruk yang prevalensinya dialami oleh 30% anak – anak di Jawa Barat dan stunting. Oleh karenanya, selain meluncurkan program “Sekoper Cinta” atau Sekolah Perempuan Capai Impian dan Cita – cita sebagai wadah bagi perempuan Jawa Barat untuk meningkatkan kualitas hidupnya, sehingga mampu memberdayakan dirinya, keluarga, dan lingkungan sekitar, dalam waktu dekat Prov. Jawa Barat juga akan meluncurkan program “Satu Desa Satu Perusahaan”. Hal ini sangat memungkinkan kaum perempuan dapat bekerja di perusahaan yang didirikan oleh Pemerintah Daerah dan tidak perlu bekerja ke luar kota, sehingga kaum perempuan untuk bisa tetap mengurus dan merawat keluarganya. Semua hal tersebut dilakukan demi mewujudkan visi Prov. Jawa barat ke depan, yakni “Jabar Juara Lahir Batin”. Visi ini tidak hanya berfokus pada infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga berfokus pada ketahanan keluarga, karena keluarga merupakan pilar penting dalam membangun masyarakat yang sejahtera.

“Kerja bersama demi perempuan dan anak, baik antara Pemerintah dengan berbagai organisasi masyarakat, dunia usaha, media, dan perguruan tinggi harus terus dilakukan. Dengan demikian keluarga, masyarakat dan bangsa ini memiliki daya tahan yang kuat, baik spiritual, ekonomi dan sosial, dan masa depan bangsa ini menjadi semakin baik dan cerah. Jika kita selamatkan anak – anak, maka kita menyelamatkan bangsa ini. Saya berharap Festival KLA 2018 dapat memperkuat komitmen bersama, Pemerintah dan seluruh komponen masyarakat lainnya demi pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak. Indonesia Layak Anak (IDOLA) juga dapat sama-sama kita wujudkan di tahun 2030,” tutup Menteri Yohana.(red)


Komentar Anda?