Ferdinand : Masa Kita Mau Bilang Presiden Genderuwo

0
400

Inapos, Jakarta.- Kontroversi bahasa Jokowi yang mengatakan politik Genderuwo ternyata memicu reaksi sejumlah pihak.

Kini reaksi itu datang dari elit Partai Demokrat, yaitu Ferdinand Hutahaean Ketua Bidang Advokasi dan Hukum DPP Demokrat menjawab politik Genderuwo sebagai sesuatu yang menarik sekaligus juga tidak menarik, pertama kita bicara tidak menariknya bangsa kita ini bangsa yang sangat besar. Salah satu bangsa dari 20 bangsa-bangsa yang ekonominya sudah cukup maju, sayangnya bangsa yang sebesar ini ternyata Presidennya hanya bicara ‘Klenik dan Genderuwo’.

“Harusnya Presiden dengan bangsa yang besar, bicara tentang bagaimana lima tahun kedepan akan kita capai, bagaimana mengirim astronot ke bulan, bagaimana Indonesia bisa masuk dalam 10 besar bidang ekonomi, bukan bicara Genderuwo dan Sontoloyo,” pungkas Ferdinand kepada wartawan seusai mengikuti pembekalan Caleg Partai Demokrat, di Hotel Sultan Jakarta, Sabtu (10/11/18).

Menariknya adalah Genderuwo ini kan menakut-nakuti, seperti yang disampaikan Jokowi bahwa politik ini menakut-nakuti sehingga membuat rakyat takut. Saya telah telusuri, sambungnya, seluruh elit politik manapun saya belum temukan ada pernyataan atau perbuatan yang kemudian membuat masyarakat kita takut.

Tetapi saya banyak menemukan kebijakan Jokowi yang justru membuat masyarakat kita takut. “Pertama masyarakat kita takut untuk berbicara benar, guru honorer takut nasibnya tidak jelas, ibu-ibu kita takut anaknya kekurangan gizi disebabkan harga-harga mahal, milenial sekarang yang mau lulus takut tidak dapat pekerjaan, ketakutan masyarakat selanjutnya ialah terhadap pemerintah yang berhutang ugal-ugalan mereka ketakutan siapa yang akan membayar dan takut akan membludaknya Tenaga Kerja Asing (TKA),” tegasnya.

Jadi kalau Jokowi bicara politik Genderuwo menakutkan, sebaliknya yang lebih banyak menakutkan siapa?, termasuk bagi saya menakutkan kebijakan itu. Dunia usaha yang saya geluti pun merosot jadi saya takut.

Kalau kita bilang bahwa kalimat tersebut dirinya itu, ya tidak elok juga dia itu Presiden kita yang harus dihormati. “Masa kita mau bilang Presiden kita Genderuwo, jadi saya meraba-raba jangan-jangan waktu berbicara itu ada cermin didepannya,” tutupnya. (Elwan)