BerandaOpiniEpisode Politik Mistik

Episode Politik Mistik

Oleh : Faizal Ikbal
Mahasiswa Ilmu komunikasi UMMU Ternate, dan Kabid PTKP HMI Komisariat Fisip UMMU Ternate Periode 2017-2018

Wacana tentang Mistik Adalah Narasi yang selalu hidup di tengah masyarakat, tanpa memandang Pola dan Struktural dominasi pemikiran modern. Menurut asal kata, mistik berasal dari bahasa Yunani mystikos yang artinya rahasia, serba rahasia, tersembunyi, gelap atau terselubung dalam kekelaman.

Konsepsi Mistik, berkembang dan dipercaya oleh seluruh Agama sebagai langkah melegitimasi manusia untuk bertemu dengan tuhan. Corak pemikiran ini hanya mempertimbangkan sebab-akibat yang tak mampu di tafsirkan oleh rasio, lalu Tingkat kepercayaan terhadap Mistik lambat laun menjadi budaya yang berkembang di masyarakat misalnya, meramalkan Anak yang tengah di kandung Istri raja, kelangsungan Ekonomi kerajaan, meramalkan kondisi Alam, Dan lain sebagainya. Dinamika Politik Mistik seperti ini, telah berlangsung sejak Zaman kuno pada kerajaan-kerajaan di dunia.

Kita turut menyaksikan transformasi besar yang di beri nama Westernisasi atau Modernis yang ingin berusaha melepaskan bangunan pemikiran Mistik yang dianggap terlalu mensakralkan sesuatu yang tidak diketahui indikator – indikator kebenarannya. Peta – peta kebudayaan yang ingin menempatkan fenomen modernisasi dalam kerangka yang ideal sedikit banya menyiratkan luasnya pengaruh modernisasi yang dimulai dari barat. Dalam arti ini, Semangat modernitas banyak di warnai pandangan dunia barat dan pranata-pranatanya. Perkembangan ini secara historis berjalan sejajar dengan Perubahan-perubahan pandangan falsafih khas Barat, terutama yang dimulai sejak zaman Renaisans dan diperkuat pada Zaman Aufklarung. Sikap ini merupakan peralihan dari alam pikir ontologis ke alam pikir Funsionalis atau dalam kategori comte, terjadi peralihan dari tahap metafisik ke tahap Positif. (Baca : F Budi Hardiman, 2003). Seri pemikiran Barat yang menempatkan kebebasan di Alam menjadi keharusan dari suatu subjek (manusia) dan sekaligus berperan sebagai Penarikan kebenaran, akan bertolak dengan paradigma ontologis yang berkembang mulus di timur tengah dan menjalar sampai ke bangsa-bangsa jajahan seperti Maluku Utara.

Menarik, untuk melihat momentum Pemilihan Gubernur dan wakil gubernur Pada sisi politik Mistik. Episode Politik Maluku Utara telah memasuki sesi konsolidasi basis Massa diberbagai pelosok Halmahera.

Strategi dan taktis dalam berpolitik didaratkan sebagai ajang promosi Kandidat disertakan juga Agenda-agenda Mistik yang di perankan oleh Dukun – Dukun Kampoeng demi Mau Merebut Hati para partisan politik.

Corak pemikiran Mistik menjadi Nafas kebudayaan masyarakat yang tumbuh dan bersemai di pelosok-pelosok Halmahera. Pola pemikir Mistik ini, lalu di alamatkan pada tiap pengelaran Hajat Politik, buktinya Setiap Pasangan Memiliki Tetua-Tetua yang di percaya punya kekuatan Megic Untuk meramalkan Situasi dan kondisi politik yang di hadapi.

Praktik meramalkan kemenangan Kandidat, turut mengilhami kepentingan merenggut Simpatisan Politik dengan cara membangun konstruksi Mistik misalnya, membangun cerita tentang bermimpi kemenangan Kandidat, lalu di ceritakan kepada masyarakat dari pesisir Halmahera. Ternate, tidore, Halteng, Haltim, Halsel, Halut, Halbar dan Pulau Morotai. Hal Mistik lainya, misalkan, Kepercayaan diri Kandidat yang pesimis dengan kemenangan politik, lalu orang-orang yang memiliki kekuatan megic itu meramalkan kemauan ingin menang pada momentum politik tersebut, Maluku Utara menyebutnya dengan tradisi mangko putih,(Ramalan atas sesuatu yang seakan akan tetap Terjadi)

Ambisi kekuasaan mengisola Nalar rasional menganggap politik adalah cara melekatkan berbagai praksis politik, kendati paranormal pun diajak memainkan peran Merebut kedudukan. Fenomena politik ini sebenarnya bukan formulasi baru dalam sejarah perpoliitikan Maluku Utara, masyarakat lalu diarahkan paradigmanya pada sekte-sekte Mistik contohnya masyarakat dengan spontan menghitung peran paranormal (Dukun – Dukun dengan Kekuatan moro) dibalik layar Politikus, dan percaya atas kemenangan imanjinasi yang di yakini turun pada meja realitas. Politik sekarang, tak ubahnya dengan kegiatan santet-menyatet kedudukan dengan menghilangkan makna eksistensi politik sebenarnya yakni seni merayi kekuasaan dengan mengedepankan cara rasional oleh karena kedudukan di pahami sebagai amanah yang datang dari tuhan.
Sejatinya berpolitik harus menempatkan rakyat Maluku Utara sebagai komunitas masyarakat yang aktif menilai Kandidat bukan menyeret paradigmanya ke aspek Mistik sehingga rakyat dipandang tak waras.

Walahu’Alam.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments