Ekspedisi DHL Diduga Lakukan Penggelapan

0
456

Inapos, Jakarta.-  Mantan penyanyi cilik, Dhea Annisa atau kerap dipanggil Dhea Imut belum lama ini mendapatkan musibah. Dhea kehilangan sebuah kamera tipe Canon Cinema EOS C500.

Adapun musibah yang menimpa Dhea ialah, akibat dari perusahaan jasa pengiriman Dalsey, Hillblom and Lynn (DHL). DHL Express Indonesia merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pengiriman paket dan kurir express terbesar di Indonesia.

Melalui kuasa hukumnya Henry Indraguna atas kasus tersebut, Henry mengatakan, alasan Dhea memakai ekspedisi DHL karena perusahan jasa pengiriman Internasional.

Henry juga menyampaikan alasan kliennya tersebut, “sekadar informasi, Dhea Imut mempunyai sebuah Production House (PH) yang sering memberikan jasa penyewaan kamera untuk kebutuhan syuting. Jadi ceritanya, Dhea punya kamera untuk syuting film yang harganya kurang lebih Rp 229 juta. Barangnya punya Dea,” terang Henry saat menggelar konferensi pers bersama awak media di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan, Kamis (28/09/17) sore.

Pada saat itu, Dhea meminta pamannya yang bernama Diad Ote untuk mengirimkan kameranya ke Malang. Dea ingin menjual kamera tersebut kepada pembeli yang berada di Malang, Jawa Timur. Setelah itu, ibunda Dhea, Massayu Chairini, dan pamannya memilih jasa pengiriman barang DHL di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan pada 6 September, untuk mengirimkan barang tersebut.

Alasannya, karena DHL adalah jasa pengiriman yang sudah berpengalaman dan punya nama besar. Dhea pun mengirimkan kamera tersebut kepada pembeli yang bernama Toto.

“Dikirimkan dengan tujuan dan maksud kepada ‘Bapak Toto atau Suhadi’ di Malang. Permintaan kita dikirim ke rumah, karena ada alamat rumahnya. Sudah jelas kami minta dikirim ke alamat yang dimaksud, agar lebih cepat sampai, pamannya Dea menggunakan DHL Express,” jelas Henry.

Beberapa hari kemudian, barang ini entah ke mana, tidak sampai ke tempat yang dituju. Saat dikontak, barang itu raib.

Ketika ditelusuri, katanya barang tersebut ada yang ambil. “Siapa yang ambil..?”tanya pamannya. Lalu ditunjukkan KTP yang ambil, yang ambil itu namanya Totok Suhadi. Padahal kita tujukan barang itu ke Toto atau Suhadi bukan Totok Suhadi.

Mendengar barang tersebut hilang, Dea dan keluarga pun tak tinggal diam. Massayu pun menanyakan kamera tersebut dengan menghubungi call center DHL. Namun, perlakuan dari pihak DHL tersebut tidak mengenakan.

“Dibilangnya case closed (kasus ditutup). Gimana bisa digituin..? Kita korban dan barang hilang (harganya) Rp 200 juta lebih. Sebab itu, Dhea dan keluarga tidak terima dan minta untuk dilakukan upaya hukum,” pungkas Henry.

Dugaan kami ada modus. KTP yang diberikan pihak DHL kami yakin itu palsu. Kok, tahu-tahu ada yang ambil atas nama Totok Suhadi. Terkesannya satu orang, padahal di pengiriman kami 2 orang yaitu Toto atau Suhadi.

Henry juga sempat melakukan upaya somasi pada pihak DHL, akan tetapi sampai hari ini tidak juga direspon. Henry berkesimpulan, “apabila sampai hari Senin pihak DHL tidak juga memberikan kepastian, maka kami akan melaporkan DHL ke kepolisan pada hari Selasa.

Atas kasus ini Henry Indraguna mengacu pada Pasal 372 dan 374 KUHP tentang penggelapan dan penipuan, dengan ancaman hukuman selama 4 sampai 5 tahun. (Elwan)


Komentar Anda?