Dokter Bedah Saraf ini Berhasil Mempertahankan Disertasinya

0
1572

Inapos, Jakarta.- Banyak usaha yang sudah dilakukan dokter untuk menyembuhkan pasien stroke. Satu di antaranya, pemasangan kateter untuk mengeluarkan cairan otak agar tidak ada tekanan di otak. Kondisi pasien malah semakin memburuk, meski sudah dilakukan langkah itu.

Sampai sekarang banyak dokter bedah saraf belum mengetahui mengapa hal itu terjadi. Inilah yang kemudian menjadikan dr. Djoko Listiono Linggo, Sp.BS(K) merupakan seorang Dokter Spesialis Bedah Saraf pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) melakukan riset untuk mencari jawabannya. Jawabannya akhirnya diketahui lewat penelitian yang mengantarkannya meraih gelar doktor dalam sidang promosi yang berlangsung di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (14/11/18).

Menurut Djoko, delapan puluh lima persen perdarahan otak adalah perdarahan yang terjadi secara Spontan (bukan akibat trauma atau operasi) dan 90% daripadanya adalah kasus stroke. Stroke sudah menjadi permasalahan kesehatan global, regional dan nasional yang diprediksi mempunyai projeksi disabllitas dan mortalitas yang makin meningkat seiring perjalanan waktu.

“Di Indonesia merupakan penyebab kematian terbanyak dan hasil Riskersas Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 2018 menunjukkan peningkatan prevalens dari 7 (tahun 2013) menjadi 11,9%,” kata Djoko kepada wartawan.

Outcome (luaran) klinis pasien yang mengalami perdarahan otak ditentukan oleh situasi dan kondisi cedera pada jaringan otak. Cedera jaringan otak disebabkan oleh dua proses mekanisme, yaitu proses desakan mekanis oleh gumpalan darah dan gangguan metabolisme sel-jaringan otak akibat terpapar oleh sel-sel darah merah dan produk-produk deggradasinya.

Adanya gumpalan perdarahan otak, terang Djoko, “akan menimbulkan desakan mekanis dan meningkatkan tekanan di dalam rongga tengkorak-kepala, sehingga berpotensi menyebabkan kerusakan struktur otak. Langkah untuk mengatasi hal tersebut maka pasien perlu menjalani prosedur operasi dan atau dipasang selang kateter kecil kedalam bilik otak,” terangnya.

Pemasangan kateter ini bertujuan mengalirkan cairan otak keluar, sehingga dapat mengurangi konten volume dan menurunkan tekanan didalam rongga tengkorak-kepala, membantu membersihkan perdarahan, serta mengatasi berlanjutnya proses mekanis kerusakan otak.

“Pada situasi dimana peningkatan tekanan dalam rongga tengkorak-kepala sudah kembali normal dan pada gambaran radiologis sudah tidak tampak lagi ada desakan gumpalan perdarahan otak, ada kalanya kondisi pasien tetap tidak menunjukkan perbaikan bahkan memburuk. Kondisi ini diyakini akibat masih adanya proses kerusakan otak subklinis Iainnya yang tengah berlangsung, yaitu gangguan proses metabolisme sel,” sambung dr. Djoko yang juga tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Namun sampai saat ini hal tersebut masih sulit dijelaskan secara kasat mata, objektif dan gambIang. Gangguan metabolisme sel baru bisa dideteksi dan diukur dari indikator biologis tertentu dalam cairan otak.

Hasil pengamatan dan kesimpulan penelitian, “mendapatkan bahwa biomarka TNFa dan zat besi dalam cairan otak yang dapat diperoleh secara mudah dari kateter drainase, dapat menjelaskan situasi dan kondisi cedera otak yang disebabkan oleh gangguan proses metabolisme sel,” pungkasnya.

Dengan demikian, maka perjalanan peristiwa perdarahan otak dapat dipantau secara lengkap dan juga estimasi prediksi Iuaran respons klinis pasien yang mengalami perdarahan otak menjadi lebih objektif dan akurat. Serta memberikan beberapa manfaat lain, untuk manejemen terapi cedera otak, melengkapi evaluasi kondisi klinis yang maksimal dan sebagai pertimbangan untuk meIengkapi pedoman rekomendasi penanganan perdarahan otak.

dr. Djoko Listiono Linggo berhasil mempertahankan disertasi pada sidang terbuka promosi doktor dengan judul, ‘Perubahan Biomarka Neuroinflamasi, Stres Oksidatif dan Produk Degradasi Darah┬ápada Perdarahan Intraserebral Spontan: Kajian TNF-╬▒, SOD, dan Zat Besi dalam Likuor Serebro Spinalis’.

Adapun tim penguji dalam sidang tersebut ; Dr. dr. Suhendro. Sp.PD-KPTI Ketua Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran (Ketua), Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudy, Sp.FK Dr. dr. Wismaji Sadewo, Sp.BS (K) (Anggota), Prof. Dr. dr. Saptawati Bardosono, MSc (Anggota), Dr. dr. Wawan Mulyawan Sp.BS(K) (Anggota). (Elwan)