DLH Malut Butuh Laboratorium

0
430

INAPOS, TERNATE, – Provinsi Maluku Utara (Malut) adalah wilayah kepulauan yang memiliki ratusan pulau besar dan kecil dengan total luasan daratan sebesar 3,1 juta hektar.

Bahkan tercatat ada ratusan Ijin Usaha Pertambangan (IUP) dengan luas konsesi mencapai lebih dari 1 juta hektar.

Konsesi pertambangan tersebut berada di pulau-pulau besar seperti Halmahera dan pulau kecil lainnya mulai dari pulau Pakal, Mabuli, pulau Gee di Halmahera Timur, Pulau Gebe di Halmahera Tengah, dan Pulau Obi di Kabupaten Halmahera Selatan yang berdampak buruk bagi masyarakat dan lingkungan Malut mulai dari pencemnaran air, hilangnya wilayah tangkapan nelayan, serta deforestasi hutan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Malut Fachruddin Tukuboya keapada wartawan belum lama ini mengatakan masalah terbesar yang diihadapi DLH saat ini adalah masalah pengawasan pada perusahan tambang yang tersebar di Malut yang menghasilkan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Ini tentunya membutuhkan gagasan yang besar dalam mencari solusi untuk dampak yang akan dirasakan masyarakat.

Menurutnya, Maluku Utara jika dilihat dari indeks kualitas lingkungan hidup ada tiga parameter yang harus dilihat yakni indeks kualitas Udara, indeks kualitas air dan indeks kualitas tutupan lahan. Tiga parameter ini yang menjadi indeks DLH.

“ Untuk Indeks kualitas udara Malut masih jauh lebih baik, tetapi kalau indeks kualitas air semakin hari semakin menurun kemudia untuk indeks kualitas tutupan lahan juga masih membaik karena dengan adanya kawasan observasi tetapi yang mengkhawatirkan adalah ancaman yang akan dihadapi masyarakat.

Lanjut dia dalam menjawab tantangan yang dihadapi masyarakat Malut saat ini adalah pemerintah Provinsi harus menyediakan semacam laboratorium. Sebab adanya laboratorium mampuh mengukur kualitas air, kualitas, udara dan kualitas tanah.

“Kami berharap kedepannya DLH Malut sudah punya laboratorium. Sebab dengan adanya laboratorium bisa melakukan uji kualitas air, udara sehingga pencemaran lingkungan yang diakibatkan air limbah bisa teratasi, “ harapnya (min)