Diduga, Benda Cagar Budaya RAIS Cirebon Dijual

0
230

INAPOS, CIREBON,- Bangunan Reol Ade Irma Suryani (RAIS) berlokasi di Jalan. Yos Sudarso Kota Cirebon yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1937 termasuk dalam Bangunan dengan Perlindungan Sangat Ketat dalam Keputusan Walikota Cirebon Nomor 19 Taaun 2001.

Didalam Bangunan RAIS ini terdapat tiga mesin pompa jaman Belanda ini dijadikan pula situs oleh Pemerintah Pusat.

Namun, generasi esok sudah tidak dapat lagi melihat RAIS ini karena kini telah raib entah kemana dan diduga telah dijual belikan.

Lokasi bekas keberadaan RAIS

Berdasarkan informasi yang diterima redaksi, benda cagar budaya yang masuk dalam benda yang masuk Bangunan dengan Perlindungan Sangat Ketat ini dijual kepada pihak asing. “Padahal, pihak dari Belanda akan membayar Reol tersebut sebesar Lima miliyar lebih untuk disimpan di musium Belanda,” jelas seorang warga Kota Cirebon yang enggan dimediakan namanya.

Menurut pria yang merupakan aktivis Cirebon ini, informasi yang diterima dirinya bahwa Reol tersebut dijual kepada warga Australia. “Infonya sih dari Australia tapi benar atau tidaknya perlu diselidik lagi Mas,” tuturnya.

Sejarah Singkat RAIS 

RAIS ini merupakan pusat pompa drainase dan air limbah yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1937 di kota Cirebon tepatnya di jalan Yos Sudarso dan mungkin karena nama Jalan Ade Irma Suryani lebih spesifik hingga memudahkan untuk memberi nama situs, walau Jalan Yos Sudarso merupakan alamat resmi situs, nama Ade Irma Suryani lebih diacu dalam penamaan situs ini dan terdaftar sebagai situs pada tanggal 18 juni 2018.

Mesin pompa ini berfungsi menyedot air yang selalu menggenang di pabrik rokok BAT akibat luapan sungai bacin yang kini menjadi Jalan Merdeka.

Mesin ini dibuat oleh Crossley Brothers Limited, Manchester. Bangunan sendiri selain terdapat ruang mesin dengan di bawah lantai terdapat kolam pengolahan, pada bagian belakang terdapat ruangan sebagai tempat yang diperuntukan bagi penunggu mesin pompa ini. Sedangkan lantai dalam ruangan mesin terbuat dari kayu. Pusat pompa drainase dan air limbah yang memiliki bangunan bergaya arsitektur jaman kolonial ini sejak tahun 1994 sudah tidak berfungsi.

Menurut pengamat Sejarah Cirebon, Jajat Sudrajat mesin ini mempunyai nilai sejarah yang cukup tinggi. “Teknologi yang digunakan merupakan teknologi canggih dijamannya,” papar Jajat.

Masih menurut Jajat, pada tahun 1996 pernah ditawar 5 milyar oleh Kurator yang datang dari Belanda karena mesin tersebut hanya ada 3 di dunia untuk di masukan musium di Belanda sebagai edukasi penerus generasi ke depan.

“Sedangkan bangunannya sendiri atapnya ambruk sehingga mesin-mesin yang rusak yang ada di dalamnya dikhawatirkan akan semakin rusak. Dan sejak tahun 1994, pemompaan drainase dan air limbah dilakukan ke mesin lain yang dibangun di sampingnya itu, tepatnya berada di depannya,” turup Jajat.

Namun dari penelusuran media, mesin tersebut tidak jelas rimbanya dan beberapa dinas terkait saling lempar tanggung jawab .

Menanggapi hilangnya RAIS ini, Dr.Lutfi Yondri dari Balai Arkeolog Jawa Barat (Balar Jabar) menyatakan seharusnya Balar Kota Cirebon bersuara. “Kekayaan kita dimasing-masing daerah itukan Cagar Budaya yang menjadi identitas daerah. Jika benda tersebut hilang maka kita tidak bisa lagi merangkai bagaimana panjangnya bukti sejarah daerah kita masing-masing,” jelas Lutfi.

Ia menuturkan pula bahwa jika tidak asa bukti sejarah maka akan dianggap dongeng oleh generasi yang akan datang.

“Benda Cagar Budaya yang berpindah harus melalui ijin dari pemerintah setempat dan harus ada berita acaranya apalagi benda tersebut merupakan bukti sejarah yang ada didaerah tersebut,” tambahnya.

Ketika ditanyakan adakah tindakan yang akan diambil oleh pihak Balar Jabar, dirinya menjawab bahwa dinas terkait harus melaporkan kepada polisi cagar budaya. “Penyelidikan akan diawali oleh Polisi Cagar Budaya yang ada di Balai Pelestarian Cagar Budaya yang ada di Banten,” tutup Lutfi.

Redaksi pun mencoba menghubungi Juliadi, SS, MA selaku Kasie. Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan, namun sampai berita ini diturunkan, dirinya belum memberikan tanggapan.

Berdasarkan UU No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya pada pasal Pasal 17 :;

  1. Setiap orang dilarang mengalihkan kepemilikan Cagar Budaya peringkat nasional, peringkat provinsi, atau peringkat kabupaten/kota, baik seluruh maupun bagian-bagiannya, kecuali dengan izin Menteri, gubernur, atau bupati/wali kota sesuai dengan tingkatannya.

Dalam ketentuan pidana di Undang-undang ini pun dinyatakan sesuai Pasal 101 : Setiap orang yang tanpa izin mengalihkan kepemilikan Cagar Budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah). (Cep’s)