Dalam Tiga Tahun, Pemprov Jateng Hubungkan 15 UMKM Dan Perusahaan Besar

0
126

SEMARANG – Sejak 2018 hingga 2020, Pemprov Jawa Tengah berhasil menjembatani program kemitraan pengusaha dengan UMKM.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Ratna Kawuri mengatakan, ada 15 perusahaan besar yang bermitra dengan UMKM selama tiga tahun terakhir.

Kelimabelas perusahaan besar itu, di antaranya PT Suwastama yang bekerja sama dengan UKM Yoso Jati (Sukoharjo), PT Cimory dengan UKM Varian Rasa (Varian Rasa), PT Bukalapak dengan UKM Batik Puspa Mekar (Surakarta) dan PT Primissima dengan Batik Sri Asih (Semarang).

“Terakhir kita di 2020, memitrakan 4 industri besar dengan UKM. Sementara ini, kami list, dari hasil monitoring, 21 perusahaan besar butuh mitra UKM. Saat ini, kami sudah koordinasi, kira-kira UKM mana yang mempunyai karakter/kualifikasi yang pas dibutuhkan investor,” kata Ratna, Senin (18/1/21).

Ratna mengatakan, aspek yang dikerjasamakan antara lain pemasaran, pelatihan, produksi dan penyediaan bahan baku.

Presiden RI Joko Widodo memberikan arahan dalam kegiatan Penandatanganan Perjanjiaan Kemitraan antara perusahaan PMA (Penanaman Modal Asing) dan PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri)  dengan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah), mengatakan kemitraan UMKM dengan usaha besar sangat penting. Tujuannya agar UMKM bisa masuk rantai produksi global, dan meningkatkan peluang UMKM untuk naik kelas.

“Artinya kualitas produk jadi lebih baik, desain, manajemen jadi lebih baik, lebih bankable (layak mendapat pinjaman bank) karena bisa belajar dari perusahaan-perusahaan besar, baik dalam negeri maupun asing menuju sebuah pertumbuhan ekonomi yang inklusif, yang berkeadilan, dan pemerataan ekonomi,” jelas Presiden.

Wakil Gubernur Taj Yasin, ditemui seusai mengikuti kegiatan tersebut menambahkan, kemitraan yang dilakukan antara perusahaan besar dan UMKM, sebaiknya juga diperluas lingkupnya. Artinya, tidak hanya kemitraan yang sifatnya linier antara perusahaan besar dan kecil melainkan juga mengembangkan kerja sama nonlinier.

“Misal perusahaan yang memproduksi pupuk, jangan hanya bekerja sama dengan UKM yang menyuplai bahan baku tetapi juga bisa melihat sekitar lingkungan perusahaannya. Misal lingkungannya ada masyarakat yang membatik, itu bisa difasilitasi kerja sama. Bisa saja, pengadaan seragam batik perusahaan dari masyarakat di sekitar pabrik,” kata Taj Yasin.

Dengan mengembangkan kerja sama yang sifatnya tidak linier, Gus Yasin, sapaan akrab Wagub berpendapat, manfaat positif yang diterima masyarakat akan lebih besar. (RS)