CSPC IAIN Syekh Nurjati Cirebon gelar Seminar Nasional Deradikalisasi Mahasiswa

0
613
KOTA CIREBON.- Hiruk pikuk dunia pada Abad ke-21 sebagai zaman milenium baru yang penuh misteri. Gaung kelompok radikalis dan jihadis terjadi dimana-mana terutama di Indonesia.

Mereka ingin merubah Ideologi bangsa Indonesia yaitu, Pancasila dengan khilafah semakin hari semakin nyaring didengar, terutama di ruang publik seperti di media sosial (medsos).
Dengan kondisi tersebut, Centre for the Study of Philosophy and Culture (CSPC) IAIN Syekh Nurjati Cirebon gelar Seminar Nasional Deradikalisasi Mahasiswa di Auditorium Pascasarjan Lt 3 IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Sabtu (5/1).
CSPC menghadirkan Peneliti sekaligus Direktur Fahmina Institute Rosidin, Direktur Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon Prof Dr Jamali MAg, dan
Akademisi. Mujahid untuk mengkaji bersama tentang faham radikalisme dan
terorisme.
Menurut Direktur Utama CSPC, Ikfal Al Fazri mengatakan  bahwa kemarin 2017, riset yang dilakukan LIPI menunjukan bahwa sebanyak 86 persen mahasiswa dari lima perguruan tinggi di Propinsi Jawa Barat menolak ideologi Pancasila dan menginginkan penegakan syariat Islam. Hal inilah yang membuat CSPC prihatin, karena mahasiswa tidak
meresapi bagaimana perjuangan para pahlawan dalam memerdekakan bangsa
dan menyusun Ideologi bangsa yang sesuai yaitu Pancasila dan Bhineka
Tunggal Ika.
“Komitmen CSPC untuk fokus pada kajian pemikiran, juga peduli dengan
kejadian yang terjadi di Kampu pada kalangan mahasiswa. Faham
radikalisme dan terorisme perlu dikaji secara mendalam dan didiskusika
agar kita sebagai mahasiswa tidak terjebak pada faham radikalisme dan
terorisme yang akan membuat bangsa Indonesia sakit,” ungkapnya.
Sementara Moderator dan juga Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Wahyono menyimpulkan bahwa menguasai intra kampus, mata kuliah yang didalamnya terdapat perdamaian, memperkuat mata kuliah tafsir dan ideologi negara.
“Mahasiswa harus bisa meresapi ideologi bangsa, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Dalam mengatasi hal ini dosen dan mahasiswa harys menguasi organisasi kampus, juga mempelajari perdamaian agama, memperkuat mata kuliah tafsir dan Ideologi Pancasila”(Kris)