Christina : KBRI KL perlu evaluasi

0
46

INAPOS, KUALALUMPUR,- Kejadian meninggalnya salah seorang pekerja migran saat mengantri perpanjangan paspor di KBRI Kuala Lumpur pada Kamis malam (31/10) memprihatinkan kita semua. Korban meninggal bernama Tamam asal Bawean, Jawa Tengah yang disebutkan memiliki riwayat penyakit jantung meninggal dunia saat mengantri perpanjangan paspor.

Atas kejadian ini, Anggota Komisi I DPR-RI dan wakil rakyat Dapil DKI Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan Luar Negeri menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Menyatakan prihatin dan turut berduka cita pada keluarga atas meninggalnya salah seorang pekerja migran kita, Bapak Tamam. Terlepas dari apa pun penyebab meninggalnya, sangat disayangkan sampai ada yang meninggal, ini harus menjadi perhatian kita bersama.

2. Kejadian ini harus menjadi momentum evaluasi bagi pihak KBRI Kuala Lumpur termasuk tentunya Kementerian Luar Negeri di Jakarta. Mengapa proses pengantrian memakan waktu sangat lama? Jika ternyata layanan pengambilan nomor urut paspor bisa dilakukan secara online, nyatanya para pekerja migran tetap memilih mengantri, ini bisa saja karena ketidaktahuan dan itu artinya kurangnya sosialisasi dari KBRI terkait mekanisme pengurusan dokumen.

3. KBRI dan stakeholders lainnya harus memastikan sistem ke depan dibuat lebih mudah dan lebih cepat mengingat kondisi para pekerja migran kita yang datang dari berbagai titik di Kuala Lumpur dan sekitarnya, yang tentunya membutuhkan biaya transportasi, termasuk potensi kehilangan upah karena ijin tidak bekerja. KBRI juga perlu mengantisipasi trend peningkatan antrian dan tidak sekedar reaktif sehingga kejadian seperti ini tidak terjadi lagi.(Red/Rils)

Sumber :b*Christina Aryani* = Anggota Komisi I DPR-RI, Fraksi Partai Golkar


Komentar Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here