Cerita Saya Saat Diperiksa Polisi, Tentang Tulisan Saya, “Bahaya Kolonisasi Cina”

0
58

Oleh : Yudi Syamhudi Suyuti
Koordinator Eksekutif JAKI (Jaringan Aktivis Kemanusiaan Internasional)

Saya mau cerita sedikit tentang saat saya dipanggil Polda Metro Jaya untuk diperiksa atas laporan yang saya tidak tahu siapa yang melapor. Tapi saya yakin, saat itu ada indikasi untuk mengendorkan acara JAKI yang di acara tersebut saya jadi “Pemapar Tentang Kejahatan Kemanusiaan 21, 22, 23 Mei dan Tentang Pelaporan Ke Pengadilan Kriminal Internasional (International Criminal Court / ICC) pada 27 Juli 2019.

Tapi meskipun diperiksa pada tanggal 26 Juli 2019, dari jam 15.00 sampai jam 03.00 dini hari, acara Pemaparan tersebut tetap berjalan dan Alhamdulillah sukses.

Tentang pemeriksaan tersebut jelas sekali tidak layak, tidak pada tempatnya dan tentu pelapornya mencoba mengkriminalisasi.

Saya dilaporkan dan diperiksa sebagai saksi terkait dugaan pelanggaran UU ITE dan tentang diskriminasi ras dan sara dari tulisan Facebook saya yang sudah diblokir dan ditutup oleh Facebook sendiri. Tulisan di Facebook itu juga sudah lama pada tahun 2017, saat saya mengajukan permintaan ke DPR RI untuk meminta Sidang Istimewa dengan mencabut mandat Jokowi sebagai Presiden. Sebelum permintaan sidang istimewa tersebut saya juga melaporkan ke Komnas HAM tentang indikasi terjadinya Kolonisasi Cina di Indonesia.

Sehingga Kepolisian memanggil saya sangat tidak berdasar. Karena memang seharusnya yang berhak mengadili masalah ini di Indonesia adalah Komnas HAM dan DPR. Ini bukan wewenang Criminal Justice System, dimana Kepolisian berada. Tapi ini tentang pengadilan rakyat yang bersifat politik negara dan tentang masalah kemanusiaan yang di dalamnya ada hak asasi manusia dan hak asasi bangsa. Tentu Komnas HAM dan DPR yang berhak menangani masalah ini.

Dan saat itu Komnas HAM menjanjikan ke saya untuk mengadakan FGD (Focus Group Discussion) dengan menghadirkan semua pihak agar tercapai solusi. Dan di DPR, saya minta untuk diadakan RDPU (Rapat Dengar Pendapat Umum) juga untuk mencapai solusi bersama. Saya tidak alergi dengan Cina atau bangsa manapun untuk bekerjasama di Indonesia, tapi tentu saya tidak rela jika terjadi kolonisasi atau penjajahan.

Dan ini soal OBOR dan investasi Cina yang saya anggap berbahaya untuk kedaulatan rakyat, bangsa dan negara, tentu saya berhak menggunakan hak konstitusi saya sebagai salah satu pemegang kedaulatan di negara Indonesia.

Apalagi soal investasi asing, kan seharusnya rakyat benar-benar diberi informasi seterbuka-bukanya. Dan dalam pasal 11 UUD 45, dimana disebut bahwa dalam hal investasi asing, Presiden atau Pemerintah harus berkonsultasi dengan DPR. Apakah Presiden dan jajarannya pernah berkonsultasi dengan DPR soal OBOR dan DPR berkonsultasi dengan elemen rakyat sebagai konstituennya.

Lalu masalah inipun sudah selesai ketika saya menghentikan langkah untuk mendesak Sidang Istimewa, karena akhirnya saya memutuskan untuk melakukan perjuangan dengan mendukung Paslon di Pilpres 2019. Artinya, masalah tersebut sudah saya tutup.

Polisi pemeriksa akhirnya paham yang terjadi. Alhamdulillah setelah saya beri penjelasan seperti kuliah 12 SKS. Hehehehe.

Tapi yang menarik, saat itu saya ditanya, apakah saudara mau menggulingkan Jokowi ? Dan apakah saudara tahu bahwa Jokowi adalah Presiden yang sah ?

Saya jawab, saya minta ke DPR untuk Cabut Mandat Jokowi yang saya paham bahwa dia Pemerintah yang Sah. Tapi saya juga punya Hak Konstitusional yang Sah dan diperbolehkan oleh Konstitusi UUD 45, meskipun DPR pun berhak menolak.

Lalu saya ditanya, saudara melakukan ini dengan siapa saja ? Saya jawab melakukan ini sendiri. Dan ditanya lagi, kenapa anda hanya sendiri ? Apakah ada yang mendorong atau membujuk saudara atau membeking saudara ?. Saya langsung jawab, Saya ini Pemimpin.

Alhamdulillah semua pemeriksaan berjalan lancar, baik dan tidak ada yang dirugikan. Meskipun cukup capek juga.

Cerita ini sekedar sharing, bahwa memang dalam perjuangan itu dibutuhkan keberanian dalam menyatakan kebenaran. Tidak perlu takut, kalau tidak salah. Semua akan baik-baik saja. Dan percayalah bahwa Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa tidak pernah meninggalkan kita sendiri.

Selamat Hari Raya Idul Adha, Semoga Kita Semua Dapat Mengambil Hikmah Dari Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Jakarta, 10 Agustus 2019.


Komentar Anda?