BWI : Wakaf Bisa Digunakan Untuk Membangun Peradaban

0
38

Jakarta.- Potensi wakaf di Indonesia sangatlah besar, jika dikelola dan dijalankan dengan baik dan produktif. Namun sayangnya perwakafan terutama wakaf produktif belum terealisasi dengan maksimal.

Diantara faktor penyebab wakaf tidak produktif adalah kurangnya inventarisir dan sosialisasi tentang penggunaan dan manfaat wakaf kepada masyarakat luas. Hal itu diakui oleh Dr. Ir. Imam Saptono selaku Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), saat menggelar Halal bi Halal bersama awak media di Jakarta Pusat, Selasa (9/7/2019).

“Bahwa wakaf bisa digunakan untuk membangun peradaban umat manusia, karena wakaf tidak terbatas 8 asnaf saja melainkan lebih dari di luar asnaf yang ada. Sehingga pemanfaatannya jauh lebih besar. Wakaf bisa untuk melestarikan alam dan lain sebagainya,” ucapnya.

Ia mencontohkan, jika dalam satu Minggu saja dari 100 warga yang melakukan wakaf uang seribu rupiah, maka manfaatnya bisa digunakan untuk membangun 1 Madrasah. Lalu bagaimana dengan wakaf jutaan orang, tentu akan jauh lebih banyak. “BWI tidak bisa jalan sendiri, makanya butuh teman, terutama media untuk mensosialisasikan wakaf ini,” harap Imam.

Imam juga membuka sejarah tentang manfaat wakaf, bahwa wakaf bisa digunakan untuk membangun peradaban dan negara. Seperti, Wakaf Tengku Habib Bugak dari Aceh yang mewakafkan tanah dan rumahnya, didekat masjid Haram 1800M.  Saat ini Jemaah haji asal Aceh mendapatkan tambahan living cost dari hasil sewa tanah tersebut. Pesawat kenegaraan RI 001, sebagai pesawat kepresidenan milik pemerintah RI pasca kemerdekaan dibeli dari wakaf emas rakyat aceh.

“Begitu juga Pesawat kenegaraan RI 003, sebagai pesawat milik pemerintah RI pasca kemerdekaan dibeli dari wakaf emas rakyat Sumatera Barat,” tuturnya.

Tanah tempat dibangunnya stadion Senayan atau yang dikenal Gelora Bung Karno (GBK), serta sebagian emas yang digunakan untuk membangun api tugu Monas Jakarta, merupakan wakaf dari Teuku Markam. Gedung sidang paripurna DPR dibangun diatas tanah para pendiri pondok Darunnajah. Dan masih banyak aset negara yang pembangunnannya dari wakaf.

“Salah satu prinsip dari wakaf adalah tidak boleh dipindahtangankan. Nazir atau pengelola dana zakat harus mengembangkan wakaf agar menguntungkan dengan tidak mengurangi nilai dari wakaf,” jelasnya.

Menurut dia, upaya wakaf di Indonesia belum terkenal sepopuler zakat, infak dan sedekah. Akan tetapi, melihat potensinya yang besar sektor wakaf perlu menjadi perhatian bersama, agar dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan umum. (Elwan)


Komentar Anda?