Buntut penolakan dan penghadangan, Aneh, Panik, atau Paranoid?

0
192

Oleh : M. Nigara
Wartawan Senior
Mantan Wasekjen PWI

 

TIGA hari terakhir pekan pertama bulan Rajab atau pekan kedua Maret 2019, ada yang tiba-tiba aneh di negeri ini.
Ada riak-riak yang tak lumrah. Ada pembatasan-pembatasan gerak bagi warga negara, sementara hampir setiap saat TKA atau turis dari Cina daratan datang dengan sambutan bak pahlawan.

Coba simak, tiba-tiba NTB menggelegak, bukan karena gempa yang hingga hari ini korbannya masih menunggu janji pemerintah yang tidak tuntas. Seperti di Pekanbaru, Riau, Agustus 2018, Neno Warisman, anggota BPN Prabowo-Sandi, dilarang menginjakkan kakinya di NTB. Alasannya macam-macam dan terasa seperti dicocok-cocokan. Satu yang paling ditonjolkan, Neno, dituduh menggunakan tempat ibadah untuk berpolitik.

Benarkah? Dalam banyak kisah, bahkan sebelum perang Khandaq, Rasulallah menggunakan mesjid Fatah untuk kegiatan politik selain ibadah. Di mesjid itulah Rasulallah memimpin doa selama tiga hari. Kalau saya tuliskan doanya, pasti mereka akan bereaksi. Doa yang ampuh dan mendirikan bulu roma serta menakutkan bagi kaum munafik.
Allah kabulkan doa Rasul dan umat islam yang hanya 4000 orang bisa menghancurkan kaum Quraisy yang jumlahnya lebih dari 10 ribu. Doa itu juga cocok untuk kita perbanyak saat ini agar kedzaliman, kesewenang-wenangan, dan kebohongan dihentikan. Juga untuk mengalahkan kekuatan lawan. Artinya, mesjid sah untuk berpolitik dan hanya orang-orang komunislah yang melarangnya.

Jadi, apa yang keliru dari gerakan Neno? Sementara kasat mata kita bisa melihat petahana juga menggunakan tempat ibadah untuk berpolitik. Untungnya rakyat tahu mana politik kebangsaan dan politik pencitraan. Jadi, pantas kalau ada yang keanehan, kepanikan, atau keparnoan terasa sekali.

Lalu, dari Jember, tiba-tiba viral seorang caleg partai yang menurut survei-survei berbayar, kelak tidak akan lolos _threshold_ itu mengamuk. Ia yang secara hukum sama dengan rakyat Indonesia lainnya, mengubah dirinya menjadi penguasa. Bahkan mengancam perang yang berdarah-darah. Siapa dia? Saya sengaja tidak ingin menuliskan namanya karena memang dia bukan siapa-siapa.

Lho, kenapa dia _ngamuk_? Aneh, panik, atau parno dengan kedatangan Rocky Gerung, pengamat politik yang sedang naik daun. RG, dituduh selalu menebar kebencian. Alih-alih berhasil menghadang, saat RG akhirnya tetap manggung di Univ Muhammadiyah Jember, caleg itu tidak kelihatan. Serupa dengan Budi Jarot yang mengaku sebagai penjaga NKRI, selalu melemparkan ancaman pada setiap rencana aksi 212, namun saat kegiatan berlangsung, Budi juga tidak kelihatan.

*Tak Diizinkan*
Sementara Prabowo Subianto Capres 02 yang juga pendukungnya semakin _membludak_ (jangan percaya dengan rilis dari survei berbayar), juga terhambat di Bandung, Jum’at (8/3). Dengan berbagai alasan pembatalan tempat dilakukan di saat hari H. Panitia terpaksa memindahkan tempat pidato ke UKRI.

Mengapa? Ya seperti di atas, aneh, panik, dan parno. Lho, kok? Kasat mata kita melihat *mayoritas rakyat sudah terpanggil untuk melakukan perubahan*. Bayangkan, saat tablig akbar Ustadz Abdul Somad di Sumbar, berkarung-karung uang dikumpulkan rakyat untuk disumbangkan ke BPN. Berbagai aksi 411, 212, dan lain-lain juga memperlihatkan animo yang super dahsyat. Bukan hanya jumlah, tapi keterpanggilan dan keikhlasan itu yang membuat suasana jadi berbeda.

Ahad (10/3), Prabowo kembali terhambat. Pesawat pribadinya dilarang mendarat di Bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin. Dunia maya geger, namun sebelum jadi liar, Kumparan.com menurunkan klarifikasinya. “Itu hoax,” kata Awaluddin, corporate communications senior manajer AP-1.

Hoax? Berulang-ulang pemerintah menyebut harus hati-hati dengan berita hoax, setuju. Tapi belum lama ini Mustofa Nahrawardaya, anggota BPN dan caleg dari PAN, membongkar sumber hoax itu. Hasilnya? Kita tungguh saja, meski jujur saya dan mungkin kita semua pesimis akan benar-benar dibongkar.

Pemerintah berulang-ulang pula menegaskan tidak ada penghadangan pada siapa pun. “Ini negeri demokrasi,” kata mereka seolah-olah berkata jujur. “Orang bebas menyatakan pendapat!” katanya lagi seperti sungguh-sungguh ingin menjalankan demokrasi itu. Tapi, faktanya ya seperti di atas itu. Jadi, jika kemudian terjadi
kegaduhan medsos, tidak bisa juga disalahkan begitu saja. Karena fakta-fakta penolakan dan penghadangan sebelumnya adalah nyata.

Yang terakhir (tapi, pasti bukan paling akhir) konser _Tribute to Ahmad Dhani_ di Surabaya, Ahad (10/3), dibatalkan. Alasannya ya, bisa dicocok-cocokanlah. Yang paling mudah adalah soal izin. Benarkah? Hmmm… semua tentu saya serahkan penilaiannya pada anda sekalian.

Semua keanehan, kepanikan, dan keparaniodan itu bukan tanpa alasan. Lihatlah setiap petahana muncul warna_setting_an terasa kental. Meski narasi yang mereka bangun seolah-olah peristiwa itu real atau alami, padahal hehehe… Misalkan saat tiba-tiba petahana naik KRL menuju Bogor. Narasi yang dibangun, petahana tiba-tiba mau naik KRL agar bisa merasakan susahnya rakyat yang berdesakan diangkutan publik. Benarkah? Hehe, ternyata ada kisah dibaliknya yang sama sekali berbeda dan alhamdulillah rakyat tahu itu. Dalam debat Capres bulan lalu, petahana bercerita dengan mimik sangat serius. “Saya hanya berdua sopir saya ke pelabuhan di Semarang. Ya hanya berdua sopir sata jam 12 malam,” kisahnya untuk melukiskan bahwa ia ingin merasakan dan melihat sendiri keadaan rakyatnya. Tapi, faktanya ternyata tiak begitu. Dan yang paling memprihatinkan, ketika Cawapresnya mau tablig akbar, di Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumut, Sabtu (9/3) senyaaap karena yang datang hanya segelintir. Mengapa? Hehe lagi-lagi alhamdulillah rakyat sudah paham semua skenario itu.

Dan, yang pasti, *jiwa keterpanggilan* pada mayoritas rakyat untuk melakukan perubahan adalah fakta. Dan jumlahnya makin lama semakin banyak. Hebatnya, jumlah pendukung Prabowo-Sandi saat ini sudah tidak bisa lagi ditakut-takuti. Mereka akan terus bergelombang dan kelak insyaa Allah menjadi tsunami yang siap menggulung kedzaliman, kesewenang-wenangan, kebohongan, dan kebusukan. Pada akhirnya tahun 2019 ini, Indonesia akan punya Presiden dan Wakil Presiden yang baru. Pemimpin yang mampu mewujudkan serta menegakan *keadilan* dan memberikan *kemakmuran* bagi rakyatnya.
Aamiin..


Komentar Anda?