Bukti-bukti Perekat di Budaya Sunda

0
277

CATATAN TENTANG “BUBAT DAN JAWA” DALAM TRADISI NASKAH SUNDA KUNO
(Bukti-bukti Perekat di Budaya Sunda)

Ditulis Oleh : Dr. Undang A. Darsa2

Tulisan berikut disampaikan dan disajikan pada kegiatan Seminar “Pasunda -Bubat: Sejarah yang Paripurna”
Diselenggarakan oleh Pemprov Jawa Timur di Surabaya, 6 Maret 2018

A. Naskah Sunda Kuno yang Sudah Digarap Hingga Sekarang

Sebagaimana telah diketahui bahwa awal kajian secara ilmiah terhadap khazanah pernaskahan Nusantara dimulai oleh orang-orang Eropa pada awal abad kesembilan belas Masehi sehingga akibatnya mereka menjadi lebih mengenal peradaban serta kearifan masyarakat di wilayah kita ini.

Dalam pada itu, biarpun masa pemerintahan Inggris di Pulau Jawa sangat singkat, namun Thomas Stamford Raffles sebagai Letnan Gubernur Jenderal East-Indian Company (1811-1816) tergolong sebagai salah seorang pakar terkemuka dalam bidang sejarah dan kebudayaan ketimuran, bahkan ia pun termasuk salah seorang tokoh kolektor naskah-naskah Nusantara yang kini tersimpan di perpustakaan Asiatic Society of Great Britain and Ireland.

Jejak Raffles itu telah membuka mata para sarjana Belanda, termasuk mereka yang memfokuskan diri atau turut memfokuskan diri pada khazanah pernaskahan Sunda. Mereka yang dimaksud, di antaranya adalah K.F. Holle (1867, 1882a), Cohen Stuart (1872), dan Brandes (1889, 1899). Mereka pada mulanya berupaya mengumpulkan naskah ketika bertugas, baik sebagai pegawai Pemerintah Hindia Belanda maupun sebagai wiraswastawan yang sering berhubungan dengan masyarakat Sunda.

Setelah itu muncul nama-nama, seperti, Juynboll (1899, 1912), C.M. Pleyte (1911, 1914a), Poerbatjaraka (1919-1921), H. Ten Dam (1957), Jan van der Meulen (1966), Jacobus Noorduyn (1962a-b, 1966, 1971, 1982, 1985), dan terakhir A. Teeuw (2001) yang pada tahun 2000 telah melibatkan peneliti untuk menuntaskan garapan terhadap tiga buah teks naskah Sunda Kuno yang belum sempat terselesaikan Noorduyn berhubung kepulangannya menghadap Sang Khalik. Teeuw sesungguhnya terhitung sebagai salah seorang pakar paling senior yang sangat handal dalam dunia sastra dan pernaskahan Jawa dan Melayu.

Jejak mereka diikuti oleh para peneliti pribumi sejak awal tahun 1960-an hingga sekarang. Mereka itu, antara lain, Suhamir (1964), Atja (1968, 1970, 1981), Ayatrohaédi (1975, 1978, 1987, 1988, 1995), Danasasmita (1981, 1987), Ekadjati (1988, 1995, 1998, 2000, 2004), Pradotokusumo (1987/1988), Kalsum (1987/1988), Wartini (1987, 1988), Darsa (1986, 19877, 1988, 1995, 1998, 2000, 2004, 2007, 2008), Aditia Gunawan, dkk. (2009, 2010, 2011).

Sumbangan penting mereka adalah berupa hasil kegiatan pencatatan dan inventarisasi naskah, sistematisasi, klasifikasi, identifikasi singkat terhadap naskah-naskah tradisi Sunda Kuno tertentu, penuturan kembali isi naskah, dan juga penerbitan teks-teks naskah tradisi Sunda Kuno. Hasil kerja penelitian mereka hingga sekarang secara garis besar dapat dilihat melalui tabel gambar berikut :

Tabel referensi Naskah Kuno 1

B. Bubat dan Jawa Dalam Tradisi Naskah Sunda Kuno

Pengetahuan penulis teks naskah Sunda Kuno mengenai tokoh serta peristiwa masa lalu yang jauh terpaut dari masa penulisannya pastilah diperoleh dari berbagai sumber yang sudah dikenalnya hingga saat penulisan teks naskah itu.

Adapun gambaran untuk masa kemudian kemungkinan besar penulis atau pemrakarsa penulisan teks naskah tersebut sedikitnya masih mengalami atau mengenal tokoh dan peristiwa yang diabadikannya. Oleh karena itu tanpa mempertimbangkan bahan-bahan pembanding, kita sulit menafsirkan bagaimana kisah-kisah yang disebut dalam suatu teks naskah tertentu.

Hingga saat ini belum ditemukan satu teks naskah Sunda Kuno3 pun yang memuat secara utuh tentang kisah atau cerita peristiwa Bubat-Majapahit khususnya dan Jawa umumnya, kecuali dalam karya sastra berjudul Kidung Sunda berbahasa Sunda, yang sesungguhnya merupakan terjemahan atau saduran dari bahasa sumber bahasa Kawi (Jawa Tengahan).

Dalam 31 teks naskah tradisi Sunda Kuno sebagaimana terdaftar dalam tabel di atas pun hanya ada beberapa teks naskah tradisi Sunda Kuno yang mencatat secara sepintas berkenaan dengan istilah Bubat dan eksistensi Jawa dalam hubungannya dengan Sunda. Naskah-naskah Sunda Kuno yang dimaksud ialah: Carita Parahyangan (CP), Kisan Perjalanan Bujangga Manik (BM), Amanat Galunggung (AG), Sanghyang Siksakanda’ng Karesian (SSK), dan Séwaka Darma (SD).

Bersambung………………………..

 


Komentar Anda?