BMKG Minta Masyarakat Waspadai Ancaman Banjir Bandang

0
232

JAKARTA, INAPOS--Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman banjir bandang. Terutama mereka yang bertempat tinggal di sepanjang aliran sungai.

“Material yang dibawa oleh banjir bandang bukan hanya tanah dan bebatuan, namun juga pepohonan. Namun yang terpenting adalah bagi public, yaitu harus mewaspadai tanda-tanda awal terjadinya banjir bandang,”kata Dwikorita  Karnawati di kantor BMKG, Jakarta, Senin (15/10/2018).

“Jadi banjir bandang itu tidak tiba-tiba saja. Jadi selama beberapa jam, sampai dari hasil kajian kami, sampai 1-2 hari sebelumnya itu sudah ada tanda-tandanya,”tambahnya.

Dwikorita  mengingatkan, sejumlah tanda-tanda bisa menjadi alarm peringatan dini terjadinya banjir bandang. Diantaranya pertama, air sungai yang tiba-tiba berwarna keruh  atau mengalir bersama lumpur, pasir, dan bahkan disertai ranting-ranting kayu.

Kedua, kadang disertai kenaikan muka air sungai sekitar 10-20 centimeter.

Ketiga, cuaca di pegunungan atau perbukitan hulu sungai terlihat mendung atau berawan.

Dwikorita mengungkapkan, wilayah rawan banjir bandang untuk periode 1 minggu ke depan, berturut-turut yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

Wilayah tersebut rentan karena berada di sekitar zona tektonik aktif yaitu di kaki perbukitan struktur yang curam dan berbentuk memanjang.

Diterangkan dia, secara keilmuwan banjir bandang dikontrol oleh tiga kondisi utama. Pertama, kondisi geologi yang terjadi pada daerah hulu dari sungai-sungai yang mengalir di zona pegunungan dengan tektonik aktif, berkaitan dengan kondisi patahan aktif dan kekar-kekar yang membentuk pegunungan dan lembah-lembah sungai.

Kedua, kondisi seismisitas atau kegempaan dengan kekuatan mulai dari Magnitudo 2.5 hingga 4. Ketiga adalah adanya curah hujan ekstreem yang memicu terjadinya banjir bandang.

Kondisi tersebut mengakibatkan terjadinya longsor-longsor atau runtuhan batuan pada lereng dan lembah sungai pegunungan atau perbukitan tektonik aktif di bagian hulu .

Endapan longsor tersebut terakumulasi di dalam lembah-lembah sungai yang akhirnya membendung aliran sungai dari arah hulu.

Pada saat terjadi hujan ekstreem endapan longsor tersebut akan terdesak atau tertekan, sehingga jebol dan membentuk aliran tanah pekat bercampur air sungai yang meluncur dengan kecepatan tinggi.

Aliran inilah yang disebut dengan banjir bandang. Jangkauan aliran banjir bandang dapat mencapai beberapa kilometer dari arah hul.

Terkait itu, Dwikorita mengemukakan langkah-langkah untuk mengantisipasi terjadinya banjir bandang: Pertama. Segera tinggalkan lembah atau bantaran sungai bila terlihat tanda-tanda /gejala seperti, cuaca di pegunungan atau perbukitan hulu sungai terlihat mendung atau berawan.

Kedua. Perlu dilakukan inspeksi di hulu sungai, untuk melacak adanya endapan – endapan longsor di hulu sungai. Endapan tersebut perlu segera ditangani agar tidak terakumulasi membendung sungai dan akhirnya jebol meluncur ke bawah saat hujan ekstreem terjadi.(red)

 


Komentar Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here