Bekasi Kota Industri (10 Mei 1721)

0
86

Bekasi bisa dikatakan sebagai kota industri. Tentu saja bukan tanpa alasan sebutan itu disematkan. Sebab di Bekasi terdapat ribuan pabrik yang berdiri, baik yang bergabung dalam kawasan industri maupun di luar.

Dampak yang ditimbulkan pun beraneka ragam. Baik secara positif maupun negatif.

Kalau menilik ke belakang, bisa dikatakan bahwa sejarah berdirinya pabrik modern pertama kali di Bekasi adalah pabrik gula. Melalui ANRI pada dokumen RCH No. 15, 10 Mei 1721, fol. 61. Menyebutkan bahwa pada 10 Mei 1721 pengusaha Cina Kapitan Que Bouqua meminta izin ke Heemraden (lembaga VOC yang mengurus pertanahan) untuk membuka dua pabrik gula di tanahnya di Bekasi. Berikutnya, pada dokumen RCH No. 20, 15 March 1732, fol. 54 menyebutkan bahwa pengusaha Cina Letnan Ni Locqua meminta izin kepada Heemraden untuk mendirikan pabrik gula di pinggir Kali Bekasi.

Pada dokumen RCH No. 30, 24 Januari 1767, fol. 380 juga kita bisa mengetahui tentang jumlah dan pemilik dari pabrik gula yang ada saat itu. Dalam arsip tersebut dikatakan bahwa berdasar catatan Heemraden, terhadap data yang dikumpulkan sejak 11 Desember 1766-16 Januari 1767 bahwa terdapat 82 pabrik gula di sekitar Batavia, 12 diantaranya berada di tepi Kali Bekasi dan tiga pabrik agak menjauh dari Kali Bekasi.

Untuk yang berada agak menjauh dari Kali Bekasi terdapat di daerah Kaliabang, Kedaung, dan Teluk Buyung. Ketiganya dimiliki oleh Mr. Sander. Sedangkan untuk yang ditepi Kali Bekasi terdapat di Tanah Dua Ratus dan Teluk Angsan yang masing-masingnya terdapat dua buah pabrik yang dimiliki oleh E. Van Jansen. Lalu dua pabrik di Karang Congok milik Kou Tjan Ko. Ada lagi satu di Penggilingan Tengah, dua pabrik di Kebalen, satu di Teluk Pucung, dan dua di Penggilingan Baru. Keenam pabrik tersebut dimiliki oleh Mr. Sander.

Selain dimasa itu, Jessen dan Trail juga ikut mendirikan pabrik gula di Karang Congok pada 1822-1823. Tepatnya di Kampung Gabus, Tambun.

Endra Kusnawan


Komentar Anda?