BBWS Cimancis Ciptakan Air Kesehatan Dari Air Hujan

BBWS Cimancis Ciptakan Air Kesehatan Dari Air Hujan

KOTA CIREBON.- Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung melalui Bidang Perencanaan Umum dan Program menciptakan air kesehatan dan air wudhu yang bersumber dari air hujan.

‌Kepala Bidang Perencanaan dan Program Dwi Agus Kuncoro, ST., MM., MT., mengatakan pihaknya mempelopori program kegunaan air hujan ini berawal dari tahun 2017 melalui uji coba dan melibatkan pengawasan dari Jakarta. Akhir puncaknya pada tahun 2018 program ini di adopsi oleh seluruh Balai yang ada di Indonesia.

‌”Kami Balai pertama yang mempelopori Program ini dan Alhamdulillah program ini bisa di adopsi untuk 34 Balai yang ada di Indonesia, ” ujar Dwi Agus saat ditemui inapos.com dikantornya, Jl. Pemuda Sunyaragi, Kota Cirebon beberapa waktu yang lalu.

‌Dwi Agus mengungkapkan, jika program pemanfaatan air hujan ini pihaknya dijadikan dua kegunaan sekaligus. Pertama, untuk dijadikan sebagai air wudhu dan yang kedua untuk air kesehatan.

‌”Khusus untuk air kesehatan ini tentunya melalui beberapa proses yang didahului,” katanya.Untuk proses tersebut, Dwi Agus menjelaskan jika  air hujan tersebut ditampung melalui proses tiga penyaringan dari kotoran pengaruh daun, debu, dan debu halus. Setelah penyaringan barulah ke tahap elektrolisa.

‌”Untuk alat yang disediakan ialah toren (penampung air) sesuai kebutuhan, elektroda dan adaptor. Sedangkan untuk perawatan berkala hanya pembersihan dan penggantian elektroda bisa satu tahun sekali,” jelasnya.

‌Masih kata Dia, kenapa kami namakan air kesehatan? Dijelaskan Dwi Agus, Air kesehatan itu identiknya dengan air alkali atau air bersih yang PH (potensial Hidrogen) tinggi, karena isi kandungan air ialah unsur oksigen. Untuk PH 1-7 namanya asam. Makin PH mendekati angka 1 dalam komposisi H20 gas hidrogen makin banyak dalam air. Tetapi makin mendekati 14 ini kandungan oksigen makin besar. Artinya, air yang mengandung oksigen ialah air kesehatan dalam kondisi basah.

‌”Tubuh manusia cenderung ke asam bisa karena pola makan atau yang lain. Untuk itu, air beroksigen tinggi (PH 8) akan mendeteksi racun dalam tubuh, membersihkan ginjal dan metabolisme lancar,” jelasnya.

‌Agus mengakui, Ketersediaan air tersebut tergantung pada musim penghujan. Semakin banyak air hujan yang kami tampung semakin banyak pula ketersediaan air. Pada saat musim kemarau datang upaya untuk ketersediaan air bisa menggunakan air PDAM untuk pengganti air hujan. Sebab air PDAM sudah bisa di konsumsi dengan proses alat ini, akan tetapi ada sedikit pembeda karena kandungan air PDAM Total Dissolved Solid atau jumlah padatan yang terlarut dalam air (TDS) nya tinggi.

‌”Kalau pakai air TDS tinggi akan menyebabkan elektroda cepat keropos, tetapi untuk PH sama bisa mencapai tinggi,” paparnya.

‌Ditambahkan Agus, pihaknya sampai saat ini sudah membuat penampungan air hujan di masjid sebanyak 9500 liter yang terbagi untuk kebutuhan air wudhu, air minum dikonsumsi untuk jamaah masjid dan untuk semua karyawan BBWS Cimanuk Cisanggarung.

‌”Alhamdulillah semua karyawan disini mengkonsumsi air ini, bahkan dari luar pun ada yang minta air ke kami. Untuk dikantor Ahmad Yani sedang dilakukan untuk pemasangan alat yang sama,” ujar Dwi Agus.

‌Dirinya berharap program ini bisa di adopsi oleh daerah – daerah yang berada dalam wilayah kerja BBWS Cimancis.

‌”Kami sudah sosialisasikan program ini ke grup komunitas, yang sudah dilakukan ialah di Pondok Pesantren Khas Kempek dan Pondok Pesantren Ciwaringin,” katanya.

‌Tak hanya itu, Ia pun menginginkan program ini bisa diterapkan di setiap masjid yang ada di daerah melalui kebijakan pemerintah daerah, sebab program ini sangat bermanfaat.

‌”Kalau di masjid bisa menampung air hujan untuk minum dan wudhu, insya Allah bisa mengurangi banjir dan bermanfaat untuk kesehatan jamaah,” pungkasnya. (Kris)


Komentar Anda?