Batik Jumiko Ecoprint Coba Tembus Pasar Eropa

0
2126

BALI, INAPOS,-  Terinspirasi dari keinginan untuk membuat motif kain batik yang menarik namun tidak dengan membuat batik pada umumnya yang dianggap dapat mencemari lingkungan sebab masih terdapat unsur bahan kimia sebagai cairannya.

“Orang Eropa lebih sensitif terhadap issue-issue lingkungan, oleh karena itu kami memilih teknik mencetak dengan memakai elemen dedaunan untuk pencetakannya,” kata Yumiko Jacobs, Pemilik Jumiko Ecoprint saat Peragaan Busana Perkumpulan Perempuan Wirausaha Indonesia (PERWIRA) di Mal Park 23, Kuta, Jum’at (20/4/2017).
(14/11/2017).

Menurutnya, Prospek bisnis Kain Ecoprint (Batik Cetak Daun) pasarnya masih sangat terbuka dan penggemarnya sangat banyak di seluruh dunia.

“Pewarna kimia bisa menyerap ke sawah dan berpengaruh pada air tanah, Selain itu ada beberapa kulit manusia yang sensitif dengan pewarna kimia,” kata Jumiko.

ECOPRINT adalah salah satu teknik dalam ranah eco-dyeing (pewarnaan alami) pada kain. Teknik ini merupakan penggabungan antara pembuatan pola/ pattern langsung berbarengan dengan pewarnaannya. Semua potensi dari sumber alami (daun, batang, dan akar) tanaman menjadi elemen desain dari gagasan ini (botanical style).

“Untuk mengekstrak warna dan pattern dari tanaman ini diperlukan suhu tinggi (70 – 90 derajat Celcius – tergantung ketebalan daun) lewat steaming dan boiling. Kain yang digunakan harusnlah kain yang berbahan dasar serat alam,” terang Yumiko.

Menurutnya, Pasar Eropa, Jepang dan Arab Saudi adalah tujuan pemasaran Batik Ecoprint selain pasar lokal dan Asia.

“Bahkan kami menjual desain batik ini dengan harga yang relatif terjangkau,” tuturnya.

Walaupun cara pembuatannya terlihat mudah namun dirinya mengaku hal tersebut tak sepenuhnya benar, “Kulit saya menjadi hitam dan kadang gatal-gatal terkena ulat bulu saat mencari daun yang baik,” tuturnya menceritakan pengalaman. (hd)