INAPOS,BUNGO – Bank Sampah atau Tempat Pengolahan Sampah (TPS) program unggulan Gerakan dusun membangun (GDM) yang di cetus oleh H.mashuri dan H.safrudin Dwi Apriyanto (Hamas-Apri) di Dusun-Dusun mubazir.

Proyek ini menelan biaya puluhan miliar rupiah, namun sayangnnya malah mangkrak tak terpakai alias terbengkalai.

Dibeberapa Dusun, Bank Sampah tak berfungsi sebagaimana mestinya. “Pengolahan sampah ini cuma jalan 6 bulan. Sudah 2 tahun dak berfungsi,” kata salah satu warga.

Menurut warga, selain karena gajinya kecil hanya 600 ribu rupiah sebulan, petugas TPS juga kesulitan mendapatkan sampah untuk diolah. “Kalau di Dusun, sampah dibakar, makonyo ambil sampah di pasar, malah dibeli, 1 gerobak 30 ribu. Program ini kurang bermanfaat untuk kami,” keluh warga.

Selain dianggap mubazir dan terhitung menyedot uang daerah yang jumlahnya tak sedikit, keberadaan bangunan yang ada juga rawan disalahgunakan untuk kegiatan yang bukan pada tempatnya.

Seperti yang terjadi di Dusun Air Gemuruh, bak-bak sampah dijadikan kandang ayam pribadi oleh warga setempat. Beberapa sarana dan prasarananya seperti motor gerobak sampah, alat pengayak dan pencacah sampah kondisinya sudah karatan karena lama tidak terpakai.

Mirisnya lagi, di Dusun lain bahkan ada bangunan TPS yang belum difungsikan sama sekali. “Kami masyarakat di Dusun dak membutuhkan program yang macam ini. Coba uangnya untuk kebutuhan lain yang lebih menyentuh, itu lebih elok (baik-red),” tutur seorang warga Kecamatan Tanah Tumbuh.

Untuk diketahui, Dana Pembangunan TPS dialokasikan dari Dana Gerakan Dusun Membangun (GDM) 250 juta/Dusun bersumber dari APBD Bungo tahun 2018. Lewat program GDM, Pemda Bungo menganggarkan pembuatan hanggar TPS 92 unit, pengadaan tanah untuk TPS 15,75 hektar. Kemudian pengadaan kendaraan roda tiga 91 unit, mesin pencacah sampah 104 unit serta mesin pengayak sampah 104 unit.

(Rena)