Atasi Keuangan BPJS, Rizal Ramli: Pemerintah Berikan Solusi ‘Tensoplast’

0
128

JAKARTA, INAPOS – Ekonom Senior Rizal Ramli mengkritik solusi yang diberikan oleh pemerintah dalam menyelesaikan masalah keuangan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Solusi tersebut hanya bersifat temporer alias solusi ‘tensoplast’.

“Misalnya ambil uang cukai rokok dsb. Tapi, pemerintah tidak mampu memberikan solusi yang komprehensif, yang berjangka panjang. Untuk itulah saya dan tokoh buruh hari ini ingin menghadirkan solusi jangka  panjang, agar tidak terulang lagi kesulitan  keuangan di BPJS, “kata Rizal dalam sebuah diskusi, di Jakarta, Rabu, (14/11/2018)

Menurut Rizal, BPJS adalah instrumen penting untuk melaksanakan amanat UUD 1945.  Untuk itu struktur keuangan BPJS harus diperkuat, yaitu, pertama. Pemerintah harus menambahkan suntikan modal ke BPJS sebesar Rp 20triliun.

”Kalau nggak tahu caranya, konsultasi sama Rizal Ramli,”imbuhnya.

Kedua. UU BPJS direvisi agar struktur iuran BPJS menjadi lebih kuat, yaitu pekerja nyumbang 2 % dari income. Perusahaan nyumbang 6 %. Besarnya iuran pekerja bisa disesuaikan berdasarkan tingkat pendapatan.

“Misalnya yang penghasilannya dibawah UMR gak usah bayar. Di atas UMR sampai  dengan 5 juta, 1%. Yang di atas 5 – 10 juta, 2 %. Di seluruh dunia berlaku seperti itu. Tidak satu iuran untuk semua,”terang Rizal.

“Kalau itu kita lakukan, maka struktur keuangan BPJS akan lebih sehat dalam jangka panjang,”ujar Rizal.

Solusi ketiga. Untuk penyakit-penyakit kronis dan terminal. Peserta BPJS Kesehatan yang berasal dari golongan menengah ke atas harus dikenakan top up fee dan top up charge. Sebab, penyakit-penyakit kronis dan terminal yang menjadi beban terbesar BPJS Kesehatan sebagian besar diderita oleh kalangan tersebut.

Sebagai contoh, dari Januari hingga Agustus 2018, pengeluaran terbesar BPJS Kesehatan adalah untuk menanggung penyakit jantung dengan angka mencapai Rp 6,67 Trilliun atau 52 % dari total pengeluaran.

“Penyakit jantung, penyakit golongan menengah ke atas. Jangan dong tarifnya sama dengan yang lainnya,”ujar Rizal.

“Solusi keempat. Saya dengar ada keluhan utama dari Pengguna BPJS ngantrinya ampun-ampun. Prosedurnya ribet. Nunggunya lama. Hari ini ada sistem komputer,sistem online,”jelas dia.

Padahal hal itu bisa ditebak, misalnya Si A pasien ke 100. Kira-kira jam berapalah dia datang. Jangan dia dari pagi nongkrong sampai sore baru diladenin. Itu menghina rakyat banget itu.

“Masa nggak bisa dengan sistem. Kira-kira jam berapalah dia datang.  Kalau nunggu setengah jam masih wajar. Tapi yang terjadi masyarakat nunggu dari pagi sampai malam, sampai besoknya lagi. Padahal sistem komputerisasi diadakan diseluruh dunia untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat,”pungkas Rizal. (red)

 


Komentar Anda?