Aplikasi Gwido Permudah Wisatawan di Keraton Kasepuhan Cirebon

0
64
KOTA CIREBON.- Untuk mempermudah dan memenjakan para wisatawan baik domestik maupun luar negeri. Keraton Kasepuhan Cirebon menerapkan teknologi digital degan meluncurkan Aplikasi Gwido.

Peluncuran Aplikasi tersebut berkat kerjasama Keraton Kasepuhan Cirebon dengan CV Akses Digital yang bertempat di Bangsal Pagelaran Keraton Kasepuhan, Minggu (1/3/20).
Aplikasi berbasis Android ini dengan memanfaatkan teknologi Augmented Reality (AR). Penerapan teknologi AR di Keraton Kasepuhan ini disebut Рsebut sebagai yang pertama di Kota Cirebon.
Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat mengatakan, Aplikasi Gwido ini sebagai sarana sumber informasi terkait berbagai macam bangunan maupun benda-benda yang ada di kawasan Keraton Kesepuhan Cirebon. Selain itu, juga bisa digunakan ketika pengunjung datang ke Gua Sunyaragi.
“Aplikasi ini sebagai guide atau pemandu bagi wisatawan yang datang ke Keraton Kesepuhan maupun Gua Sunyaragi,” ujar Sultan.
Sultan tak menampik, jika akhir – akhir ini
pariwisata lesu, dengan hadirnya aplikasi ini, sebagai bentuk kepedulian terhadap perkembangan budaya dan sejarah di Cirebon, khususnya Keraton Kesepuhan Cirebon.
“Ini salah satu lompatan, sebab semua orang yang ada di dunia ini memakai gadget, jadi melalui teknologi inilah kami menyimpan beberapa adat tradisi dan sejarah budaya, dan kegiatan, untuk bisa diketahui bahkan dicintai kita semua,” jelasnya.
Sementara menurut President Director CV Akses Digital, Faisal Akbar, dalam Gwido ini memiliki 4 fitur utama, yakni teknologi Augmented Reality (AR), bilingual atau dua bahasa, Baluarti atau info terkait Keraton Kesepuhan, dan jadwal Pagelaran serta tradisi yang ada di Keraton Kesepuhan.
Dengan teknologi AR, lanjut Faisal, memungkinkan pengunjung untuk berinteraksi terhadap benda pusaka di museum Keraton. Pengunjung cukup menscan kode QR yang ditempel di salah satu benda pusaka di museum, kemudian akan muncul penjelasan terkait benda pusaka tersebut.
“Untuk fitur bilingual, bisa dimanfaatkan untuk turis mancanegara yang datang ke Keraton Kesepuhan Cirebon. Ada dua bahasa, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris,” jelasnya.
Kemudian ada fitur Baluarti berisi tentang informasi terkait bangunan yang ada di Keraton Kesepuhan. Hal ini juga akan membatu para pemandu atau guide dalam mencari informasi terkait Keraton Kesepuhan.
Dan fitur Pagelaran berisi tentang berbagai macam agenda tradisi budaya setiap bulannya. Fitur ini berguna bagi pengunjung maupun masyarakat Cirebon sendiri, yang belum tersampaikan secara maksimal.
“Di situ ketika akan memasuki kalender event, di mana H-2 akan muncul notif. Ada galeri foto juga,” tuturnya.
Faisal menjelaskan, nama Gwido ini dipilih karena plesetan dari Guide atau pemandu. Esensinya, membantu rekan-rekan pemandu melakukan panduan. Nama Gwido juga berasal dari bahasa Polandia yang artinya pemimpin. Logonya juga blangkon yang identik dengan guide. “Awalnya mau diambil nama Pendawa, tapi karena di Palysotre cukup banyak, akhirnya diambil nama Gwido,” pungkasnya. (Kris)