Aparat Represif, GPI Jakarta Raya: Kapolda Harus Mundur

0
150

Jakarta.- Ratusan massa yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Islam (GPI) bersama mahasiswa, buruh dan pelajar dalam aksinya yang mendesak Presiden mengeluarkan Perpu atau mundur, ternyata berakhir kisruh.

Dalam pantauan Inapos.com, sejak siang ribuan massa sudah memenuhi patung kuda, meski tujuannya ke Istana Negara ternyata akses jalan sudah di blokade aparat kepolisian.

Tak berapa lama, kemudian terjadilah chaos hingga aparat kepolisian menembakan gas air mata ke kerumunan massa aksi. Ketua Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Islam (PW GPI) Jakarta Raya, Rahmat Himran mengatakan, saat terjadinya kericuhan kami melihat aparat bertindak sangat represif.

“Hingga akhirnya dipukul mundur sampai Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat. Dan disitulah banyak jatuh korban akibat terkena gas air mata, sehingga kami evakuasi ke dalam Markas GPI, jalan Menteng Raya 58, Jakarta Pusat, Kamis (8/10/2020).

Kami juga mendapat informasi, lanjut Rahmat, dari beberapa tempat seperti di Bunderan HI, Senen, Harmoni dan lokasi lainnya. Aparat pun berlaku sama, mereka begitu represif dengan massa aksi sehingga menimbulkan banyak korban.

Atas peristiwa itu, Ketua PW GPI Jakarta Raya mendesak Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana untuk mundur dari jabatannya. Menurutnya, “Kapolda tidak mampu menjaga Kamtibmas dan justru mengorbankan anak bangsa yang sedang menyampaikan aspirasi,” tegasnya.

Kami sayangkan pemerintah, kata Rahmat menegaskan, aparat keamanan memberi respons sangat tidak wajar dilakukan karena ini aspirasi rakyat atas kebijakan yang diambil pemerintah. Ini bentuk pengkhianatan pemerintah dan DPR RI soal apa yang di aspirasikan masyarakat. Omnibus law ditolak masyarakat, tapi terus dilanjutkan hingga disahkan.