Anugerah Sastra VOI, Abrory : Mereka Duta Budaya Bangsa

0
462

Inapos, Jakarta.- Radio Republik Indonesia (RRI) Voice of Indonesia (VOI) menyelenggarakan Gelar Wicara dan pemberian Anugerah Sastra VOl 2018 kepada tiga pekerja migran Indonesia dengan tema ‘Guratan Pena : Menjayakan Bahasa dan Sastra Indonesia’, Kamis (15/11/18) di Gedung RRI, Jakarta.

Berdasarkan proses seleksi ketiganya adalah Ayundha Lestari (pekerja migran di Hongkong) dengan karya berjudul Dunia Sean, Arista Devy (pekerja migran di Hongkong) dengan karya berjudul Rahasia Suki dan Kesaksian Pembantu Pertama, serta Jassy AE (pekerja migran di Taiwan) dengan karya berjudul Pulang.

Adapun para dewan juri yang meIakukan proses seleksi tersebut adalah lrwan Kelana (Redaktur Senior Harian Republika), Erlis Mujiningsih (Peneliti Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa) dan Syarifudin Yunus (Dosen Universitas lndraprasta PGRI).

Sedangkan pembicara adalah, Drs. Muh. Abdul Khak, M.Hum, Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Abrory Djabbar, Wakil Ketua Yayasan PDS HB Jassin dan Pipit Senja, Pegiat Sastra.

Kepala RRI Voice of Indonesia Agung Susatyo mengatakan, dari total 94 cerita pendek yang disiarkan pada program Guratan Pena selama tahun 2018, terpilih 23 karya yang berhak masuk kedalam tahap seleksi. Guratan Pena disiarkan setiap hari Sabtu pada pukul 13:05 sampai 14:00 WlB. Di dalam tahap seleksi, para dewan juri melakukan proses seleksi berdasarkan ide cerita, latar, konflik dan alur, hingga dihasilkan 3 (tiga) karya sastra dari 3 (tiga) orang penulis,” ucap Agung.

Ia juga berharap agar melalui program ini, masyarakat Internasional dapat lebih mengenal bahasa lndonesia. Upaya ini juga merupakan promosi bagi Indonesia untuk Iebih mengenalkan potensi di dalam negeri melalui bahasa dan karya sastra.

Abrory yang juga seniman sastra melihat adanya perbedaan dalam anugerah kali ini, ia mengatakan, sekarang kualitas penulisannya meningkat baik itu konfliknya, alurnya dan kejutannya. Jadi buruh migran ini kalibernya sudah masuk ke kelas sastra, tidak seperti yang kita bayangkan dari tahun ke tahun semakin bagus.

“Sehingga para dewan juri kebingungan untuk memilih siapa yang menjadi juara, selain itu juga saya melihat dalam diri para pemenang ini dia mengekspresikannya sebagai terapi atas tekanan pekerjaan mereka disana yang begitu berat, mengalami beragam kehidupan yang bisa membuatnya stres. Maka oleh karenanya mereka melakukan tulisan berupa cerita atau story mereka yang dibungkus menjadi sebuah sastra,” pungkasnya.

Ia juga berharap, pemerintah dapat memanfaatkan buruh migran yang berada di luar negeri, mereka bukan hanya sebatas mencari nafkah. Lebih dari itu mereka adalah duta-duta budaya bangsa disana, baik itu melalui tulisan, sastra, tari dan lainnya.

“Sehingga digunakan lebih manfaat lagi buat bangsa kita dan itu perlu pembinaan dari instansi dalam negeri, saya juga berharap kepada migran lainnya untuk tetap berkarya, baik itu berupa tulisan atau apapun. Semoga dalam ajang ini yang menjadikan jembatan mereka untuk karir kedepan juga bisa hidup melalui tulisan,” tutup Abrory. (Elwan)