Antara Kesedihan dan Kemarahan

0
58

Ditulis Oleh : *Ahmad Khozinudin*
Sastrawan Politik

Kesedihan dan kemarahan semakin menggumpal setiap mendengar kabar Kematian karena Covid-19. Sedih, karena kita berpisah dengan orang yang kita kasihi. Marah, karena kita semua ingat semua musibah ini disebabkan karena keteledoran rezim Jokowi.

Ya, secara tidak langsung Rezim zalim inilah, yang mengimport covid-19 dari Wuhan China, dan varian Delta dari India. Sejak awal, rezim ini menyepelekan virus, menjadikannya sebagai bahan olok-olok.

Virus sembuh sendiri, tak masuk karena birokrasi berbelit, kebal karena nasi kucing, ditanya virus menjawab mobil, virus selesai dengan Qunut, menyepelekan temuan Harvard University, dan seterusnya. Penguasa yang semestinya segera mengambil tindakan antisipasi agar terjaga kesehatan dan keselamatan nyawa rakyat, malah menjadikan virus bahan ledekan.

Sejak awal, seluruh gerbang masuk Indonesia baik darat, laut dan udara, justru dibuka lebar. Bahkan, rezim menyewa buzzer untuk mengundang wisatawan masuk berdalih peningkatan pariwisata.

Tidak hanya itu, bahkan TKA China yang berasal dari tempat virus berasal justru datang berduyun-duyun ke Indonesia. Saat negeri ini menerapkan PSBB, saat seluruh rakyat dibatasi aktivitasnya untuk melakukan sejumlah kegiatan dan mencari nafkah, TKA China justru berduyun-duyun masuk Indonesia mencari nafkah.

Sekarang, saat PPKM Darurat juga sama. Rezim membuka lebar pintu masuk bagi TKA China.

Membuka pintu berbatasan negara khususnya dari China, adalah awal bencana dan kesalahan rezim yang tidak bisa dimaafkan. Tindakan ini, menjadikan virus bermigrasi besar-besaran masuk Indonesia dan menginfeksi seluruh rakyat Indonesia.

Pada fase kedua, saat kabar virus varian delta di India mengamuk dan menimbulkan banyak korban, lagi-lagi rezim membuka pintu masuk WNA India. Pada 22 April, 135 WNA India masuk Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta. Padahal, Laporan kasus positif virus corona harian di India saat itu mencapai 300.000 dalam beberapa hari terakhir.

Saat itu, 12 Orang WNA India positif Covid-19. Diduga kuat, varian delta berasal dari WNA india ini. Dan akhirnya, tidak berselang lama varian delta banyak menginfeksi masyarakat Indonesia. Puncaknya, 3 Juli pemerintah memberlakukan PPKM Darurat.

Korban infeksi virus Corona makin tak terbendung meski sudah diterapkan PPKM Darurat. Alih-alih menekan laju infeksi virus, PPKM Darurat justru mempertontonkan kezaliman penguasa kepada rakyat. Berdalih PPKM Darurat, sejumlah aparat bertindak represif kepada rakyat kecil yang mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya.

Jadi, setiap mendengar kematian karena covid-19 awalnya perasaan sedih, tetapi selanjutnya dada semakin membara marah kepada penguasa, pada rezim ini. Mereka, penguasa itulah, yang mengizinkan virus masuk ke Indonesia dan mengakibatkan kematian sejumlah rakyat Indonesia.

Mereka, yang amatiran, yang ketawa ketiwi menganggap sepele virus, yang menangkapi rakyat yang tidak percaya virus, tapi mereka lah yang sejak awal menegasikan eksistensi virus dan membuka seluruh pintu gerbang perbatasan negara, sehingga arus orang dari luar negeri yang menjadi media penularan virus menginfeksi rakyat di negeri ini.

Sekali lagi, kalau virus Corona berasal dari Lamongan, dari Garut, dari Cilacap, dari Ujung Berung atau dari Tasikmalaya, bolehlah kita menganggap ini musibah biasa, ketentuan alam yang tak dapat dihindari. Tapi virus ini berasal dari CHINA dan INDIA, dan rezim inilah yang telah mengizinkan virus itu masuk ke negeri ini.

Jadi, jangan merasa iba pada rezim ini. KITA SEGENAP RAKYAT BERHAK MARAH KEPADA REZIM INI YANG MEMBERIKAN IZIN VIRUS CORONA MASUK KE INDONESIA ! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here