Ancaman Reshuffle, Ketum BMI: Inti Masalahnya Ada di Presiden

0
65

Jakarta.- Khalayak banyak tentu kaget dengan ancaman reshuffle Presiden didepan publik terkait kinerja para Menterinya yang dibawah standart dan disertai ancaman reshuffle.

Sederhana saja, apa ini menyelesaikan masalah, akar masalahnya kan di Presiden dalam hal ini top leadernya Presiden kabinet itu. Ibarat kepala rumah tangga seorang Presiden, istri adalah tangan kanan Presiden dan anak adalah rakyatnya, apakah pantas kepala keluarga mengkritik istrinya didepan anak atau bahkan khalayak luas, tentu ada masalah terkait leadershipnya kenapa tak dibicarakan saja di internal.

Hal itulah yang menjadi pertanyaan Ketum Bintang Muda Indonesia (BMI) Farkhan Evendi dalam pesannya, Selasa (30/6/2020).

“Jangan-jangan memang ada Menteri yang mau mundur karena tidak nyaman dengan Presiden, lalu Presiden terbawa emosi dengan bilang ke publik,” sebut Farkhan.

Eksploitasi kemarahan tentu nanti bila disertai reshuffle akan membuat psikologis seorang Menteri yang di reshuflle mengalami tekanan batin yang luar biasa, dan wujud tak ada ucapan terimakasih seorang Presiden pada bawahan.

Ia menyebut, adakah Presiden selama ini berterimakasih pada Menterinya, adakah Presiden selama ini benar-benar membuat Menteri bekerja dengan visi nawacitanya sehingga tidak menabrak daripada aspirasi rakyat dan narasi-narasi kerakyatan maupun persatuan nasional, tak mungkin sopir memarahi kondektur didepan umum kalau memang kondektur bermasalah turunkan baik-baik ditengah jalan.

“Isu reshuffle juga bisa memancing spekulasi ada partai yang mau menaikkan jangkarnya terhadap sumber daya kekuasaan, dalam menghadapi pemilu 2024 yang semakin berat,” pungkasnya.

Perang Internal Istana

Ini juga menurut saya, akan memicu perang di internal Istana setelah sebelumnya saling serang antar kelompok pendukung Joko Widodo terkait penunjukan Komisaris BUMN.

“Ancaman reshuffle adalah menimbulkan kegaduhan baru, kegaduhan itu menambah sejumlah kegaduhan ketika energi kita lagi difokuskan pada penanggulangan dampak Covid-19, Pak Presiden perlu diingatkan untuk meningkatkan kepercayaan diri, political will dan solidaritas antar elemen untuk bersama melawan Covid-19,” terang Farkhan.

Bintang Muda Indonesia (BMI) melihat saat ini, situasi memanas ditengah tidak adanya penghargaan Presiden pada Menteri yang sudah bekerja keras yang secara otomatis Presiden tidak menghargai jerih payahnya sendiri dalam mengkoordinasikan para Menteri untuk melawan krisis sosial dan krisis pandemi Covid-19 ini.

Bintang Muda Indonesia menghimbau, “sebaiknya Presiden untuk lebih serius bergerak dan tidak perlu curhat ke publik soal yang tidak perlu seperti mengancam Menteri dan lain sebagainya. Di negara sedemokratis apapun jarang ada Presiden mengancam akan melakukan reshuffle. Minimal yang berbicara reshuffle adalah juru bicaranya itupun khusus menjawab bila memang ada tekanan publik,” tukas ia.

Menurut Farkhan, bila gaya komunikasi Presiden transformatif dan Presiden mampu menciptakan budaya kerja tahan banting dan pro rakyat maka semestinya akan diikuti oleh Menterinya. Bila lemah didalam diri Presiden maka Presiden sendiri pun takkan mampu menahan ketidakmampuan dirinya mengatur Menteri didepan publik, jadi inti masalahnya ada di top leader dalam hal ini Presiden.

Pada dasarnya kita melihat nama-nama terbaik ada di kabinet adalah nama-nama terbaik yang terbaik menurut kriteria partai pendukung pemerintah, bukan pada prestasi mereka sebelum jadi Menteri maupun pengalamannya.

“Waktu sudah berjalan hampir satu tahun, kabinet ini berjalan tanpa narasi-narasi besar yang membuat Indonesia maju di bidang-bidang krusial baik aspek pendidikan, teknologi, militer, ekonomi maupun sosial budaya.

Presiden perlu memasukkan nama-nama profesional di bidangnya, teknologi, siapa saat ini tokoh yang sedang naik daun di aspek ini, pendidikan, kenapa tak memilih dari kalangan yang teruji memperhatikan nasib anak kurang mampu, ekonomi, kenapa tak memilih sosok ekonom pro ekonomi kerakyatan yang teruji, Menteri kesehatan, kenapa tak cari sekaliber siti Fadilah supari dalam melawan pandemi global.

Bisikan partai pendukung saya kira sudah cukup, karena terbukti titipan mereka gagal dan ugal-ugalan membawa arah bangsa ke Visi Indonesia Maju.

“Presiden juga harus terbuka, pada opini umum mengenai nama-nama baru yang dipersiapkan menggantikan posisi Menteri yang mau direshuffle betapa dulu Presiden kita SBY selalu mendengar opini publik terkait Menteri yang mau direshuffle,” ujar Farkhan. (El)