Ajudan Menteri BPN Ancam Demonstran Dengan Pistol

0
409

Inapos, Jakarta.- 25 orang demonstran yang tergabung dalam Kelompok Tani Panguripan, Desa Paya Bagas, Kab. Serdang bedagai, Provinsi Sumatera Utara, sudah 2 bulan lamanya mereka menuntut haknya di Kementerian Badan Pertahanan Nasional, Kebayoran Baru, Jakarta.

Adapun persoalan yang sedang mereka hadapi ialah, lahan seluas 82 hektar yang sejatinya sudah menjadi lahan masyarakat dan telah diakui Negara sejak tahun 1936 melalui surat Kartu Resmi Pendaftaran Tanah (KRPT), sesuai Undang-undang Darurat No 8 tahun 1954. Bahkan telah menjadi perkampungan yang terdapat 253 KK. Tepat pada tahun 2011 lalu, rumah, tempat ibadah dan gedung dihancurkan semua oleh pihak Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN).

Suwarno selaku Ketua Kelompok Tani Panguripan, menjelaskan alasannya hinga berbulan-bulan lamanya menduduki Kantor Kementerian. Kita sudah 2 bulan disini dan 8 kali pertemuan dengan pihak BPN, akan tetapi titik terangnya tidak ada.

“Saat menggelar pertemuan dengan masyarakat, BPN hanya membacakan surat dari PTPN saja, sedangkan surat yang dimiliki masyarakat tidak dibacakan. Bahkan pengakuannya PTPN sudah memegang HGU lahan, saat kita tanyakan kepemilikan HGU tersebut BPN tidak bisa menjawab,” ucap Suwarno saat dijumpai media di Kementerian Badan Pertanahan Nasional (BPN) di Kebayoran Baru, Jakarta, Senin (18/09/17) sore.

Kita memiliki data yang valid buku HGU, sertifikat dan petanya juga ada. Pada tahun 2011 rumah-rumah masyarakat dihancurkan dengan alasan sudah menang di Pengadilan. Padahal, masyarakat tidak pernah memiliki perkara dengan Pengadilan.

Yang lebih mengagetkan lagi, Suwarno bercerita bahwa dirinya sempat ingin disogok oleh pihak perkebunan pada tahun 2010 senilai 15 Milyar. Artinya, jadi tanah ini memang murni milik masyarakat.

Foto : terlihat ajudan Menteri saat dilerai oleh pihak security dan polisi.

“Bahkan tadi juga makanan yang akan kami makan ditendang-tendang oleh ajudan Menteri bernama Romli. Padahal kami sudah katakan, ‘Pak itu makanan jangan ditendang seperti itu’. Kemudian ia marah-marah sambil ingin mencabut pistol yang dimilikinya, saat itu juga ia langsung memukul mata saya sebelah kiri,” jelas Suwarno.

Esok, lanjut Suwarno, kami akan melaporkan kejadian pemukulan yang dilakukan ajudan Menteri itu ke Mabes Polri agar segera ditindak lanjuti.

“Kami juga berencana akan mengadukan kasus ini kepada Presiden, sebab para pejabat BPN sudah buta dan tuli,” tegas Suwarno. (Elwan)