Ada Apa? TI Rajuk di Beltim Terkesan Bebas Hantam DAS

0
215

BABEL.- Kian jadi pertanyaan publik, ada apa, tambang liar dengan tehnik rajuk di Belitung Timur (Beltim) kian marak merambah Daerah Aliran Sungai (DAS), padahal sangat jelas hal tersebut sangat dilarang.

Mulai dari aktifitas tambang di sepadan DAS, hingga membabat wilayah sumber air baku PDAM Beltim di kecamatan Gantung. Hingga hal tersebut membuat bebevrapa wartawan geram.

Lebih parah lagi, juga ikut dihantam mangrove yang ditanam oleh siswa SMA Negeri 1 Damar dan Komunitas Akar Bakau habis ikut dibabat. Bahkan dampaknya hingga terjadi pencemaran yang mengakibatkan hilangnya mata pencarian bagi nelayan sungai.

Hal tersebut terjadi tepatnya dilokasi depan Stadion Damar Beltim, pada areal Trafo Mayang.

Anggota Forum Daerah Aliran Sungai (FORDAS) Beltim, Yudi Amsoni terlihat kecewa saat melihat tanaman milik siswa yang ikut dibabat para penambang yang menggunakan ponton rajuk tower.

“Lokasi DAS ini kami tanami sudah 3 tahun yang lalu, terakhir itu bulan agustus tahun 2019 setahun setengah yang lalu bersama siswa-siswi SMA N 1 Damar dan siswa siswi SMPN 1 Damar, sebanyak 5000 bibit dilokasi ini kami tanam,” sesal pria yang disapa Yudi Senga.

Wilayah Itu sangat jelas kata dia masuk DAS, ini adalah aliran sungai Manggar. Yudi mendapatkan bibit mangrove dari BPDAS Cerucuk, sejumlah 5 ribu bibit.

“Melihat areal ini dirusak, saya sangat kecewa sangat prihatin. Yang seharusnya ini dijaga sama-sama tidak dirusak, bahkan kami mengajak para siswa, komunitas akar bakau yang seharusnya pertumbuhannya lebat subur, namun kenyataanya daerah sini ditambang, bibit yang kami tanam habis ditambang oleh aktifitas illegal minning,” ucap Yudi

Disini, lanjut dia, ada sekitar ada sekitar 13 unit ponton rajuk tower. Kalau berapa lama mereka beroperasi dirinya tidak tau, Tetapi faktanya, kata dia, sekarang setelah kelapangan hal ini kenyataannya yang terjadi, “ini sangat miris, sangat sedih melihatnya,” kata dia.

Karena itu, dia berharap kepada aparat penegak hukum agar benar-benar serius menyikapi hal ini, menindak tegas segala pengrusakan ilegal mining di sepadan sungai.

“Khususnya sungai manggar, termasuk seluruh sungai di Belitung Timur ini, juga kelestarian mangroove agar dijaga sama-sama, tidak ada lagi pembantaian hutan mangroove, gimanapun juga mangrove adalah paru-paru dunia, dan ini sangat penting kita jaga sama-sama,” jelas Yudi.

Begitu pula hal ya g disampaikan oleh Kepala SMA Negeri 1 Damar Riskan Akbari. Dirinya menjelaskan bahwa penanaman mangrove tersebut memang oleh siswa SMAN 1 Damar.

“Dan kalau melihat kondisinya memang sudah dirusak, tapi kami dari siswa tidak akan menyerah, tetap akan mengajak anak-anak kami walaupun kondiainya seperti ini. Semoga yang masih ada masih bisa kita pertahankan. Dan kami tidak akan menyerah, kami akan menanam kembali,” ujar Riskan.

“Kepada penegak hukum, mudah-mudahan mereka bisa tergeraklah untuk menyelamatkan kondisi alam, khususnya di lokasi Sungai Manggar ini. Ini kan untuk keberlangsungan anak cucu kita kedepan,” tandasnya.

Sementara itu, salah satu nelayan sungai Manggar Harli juga ikut menyesal dengan adanya dugaan pembiaran terhadap tambang yang membabat DAS Sungai Manggar.

“Semenjak banyaknya aktifitas rajuk, sangat berpengaruh terhadap nelayan sungai, termasuk nelayan Manggar juga mengeluh. Itu karena pengaruh limbah itu, itukan sama-sama dapat kita lihat,” sesal Harli, Selasa (29/12).

Bahkan, kata dia, Kepiting pun saat ini sangat sulit didapat, karena cemaran limbah lumpur, jadi air keruh.

“Kepada penegak hukum, harapan aku selaku nelayan segeralah tuntaskan. Tidak lain dan tak bukan, kalau tuntas ini tidak akan berkelanjutan,” pinta Harli.

Penulis : Tim Inapos.com Babel.

Sumber foto : Wartawan Beltim