Suatu hari Abu Yazid Al-Busthomi (Wali sufi,188H/804M) mendapat ilmu berharga dari seekor anjing di tepi jalan.

Seperti biasa, Abu Yazid suka berjalan sendiri di malam hari, lalu beliau melihat seekor anjing berjalan terus ke arahnya. Ketika anjing itu menghampiri beliau, Abu Yazid mengangkat jubahnya khawatir tersentuh anjing yang katanya najis itu.

Spontan anjing itu pun berhenti dan terus memandangnya. Entah bagaimana Abu Yazid seperti mendengar anjing itu berkata padanya. “Tubuhku kering dan tidak akan menyebabkan najis padamu. Kalau pun engkau merasa terkena najis, engkau cukup membasuh 7 kali dengan air dan tanah, maka najis di tubuhmu itu akan hilang. Tapi jika engkau mengangkat jubahmu kerana menganggap dirimu lebih mulia, lalu menganggapku anjing yang hina, maka najis yang menempel di hatimu itu tidak akan bersih walaupun engkau membasuhnya dengan 7 samudera lautan”.

Mendengar itu, Abu Yazid tersentak dan meminta maaf kepada anjing tersebut. Sebagai tanda permohonan maafnya yang tulus, Abu Yazid lantas mengajak anjing itu untuk bersahabat dan jalan bersama. Namun anjing itu menolaknya.

“Engkau tidak patut berjalan denganku. Karena mereka yang memuliakanmu akan mencemooh dan melempari aku dengan batu. Aku tidak tahu mengapa mereka menganggapku hina, padahal aku berserah diri pada sang Pencipta wujud ini. Lihatlah aku tidak menyimpan dan membawa sebuah tulang pun, sedangkan engkau masih menyimpan sekarung gandum,” kata anjing itu pergi meninggalkan Abu Yazid.

Abu Yazid pun terdiam dan berkata: “Duhai Allah, untuk berjalan dengan seekor anjing ciptaan-Mu saja aku tidak layak. Bagaimana aku merasa layak berjalan bersama dengan-Mu, ampunilah aku dan sucikan hatiku dari segala kotoran.”

Mungkin kita tak pernah diingatkan oleh seekor anjing seperti Abu Yazid,
Apakah kita harus menunggu seekor anjing untuk menyadarkan kita, mengingatkan kesombongan, kebodohan diri kita?

Kita bukan Abu Yazid seorang Wali, kekasih Allah yang akan diingatkan oleh sang kekasihnya dari perilaku buruk.

Kita adalah para Godot _(sosok Imaginer Absurd Samuel Beckett)_
yang setia menunggu sesuatu yang tak pernah datang.

Berubahlah sendiri tanpa harus menunggu yang tak akan pernah datang, kita bukan Yazid sang wali kekasih Allah, sadarilah betapa buruknya akhlak kita yang sering kita tak sadari (karena kebodohan), kerap tanpa sadar kita angkuh, sombong, merasa lebih pintar, merasa lebih baik dan benar hingga sering tak sadar kita ucapkan kata kata iblis.
أنا خير منه
yang dari rasa “lebih baik” itu kita kadang berbuat dzalim, menghina, memvonist, menilai dan merendahkan orang lain.

Adakah yang sadar ketika Syaikh Ibnu Athoillah berkata;
ربما دخل الرياء عليك من حيث لا ينظر الخلق عليك
Sangat mungkin kita “riya'” dari sisi yang orang lain tak melihatnya?
Kita terjebak perasaan sendiri, perasaan tinggi, mulia, hebat dll bahwa nasehat itu ditujukan kepada kita agar jangan sombong?

Berubahlah sendiri, sadar sendiri, Jangan seperti godot menunggu sesuatu yang tak akan pernah datang. Hendak bagaimana lagi cara kita berubah, dan yang jelas kita bukan juga seperti Abu Yazid sang kekasih Allah.

#AkiSuwung
#Godot
#khutbahjum’at