47 Tahun SOS Children’s Tak Henti Berikan Kasih Sayang Ribuan Anak Indonesia

0
56

Jakarta.- Sepertiga dari jumlah penduduk di Indonesia, atau setara dengan 85 juta adalah anak-anak. Mereka rentan terhadap kesenjangan sosial, tindakan kriminal hingga bencana alam, serta risiko ditelantarkan bahkan kehilangan pengasuhan.

SOS Children’s Villages, yang berkomitmen memberikan perhatian dan perlindungan kepada anak-anak, berpegang pada prinsip bahwa keluarga, orang tua, rumah, kakak-adik dan lingkungan adalah kebutuhan utama tumbuh kembang seorang anak.

Sebuah karya dari Gabriela Mistral, peraih Nobel Sastra dari Chile menuliskan ‘Namanya Hari Ini’. Kita banyak melakukan kesalahan buruk, yaitu meninggalkan dan mengabaikan anak-anak.

Banyak hal yang masih bisa menunggu, tapi anak tidak bisa menunggu. Sekarang adalah waktunya, saat tulang-tulang mereka sedang terbentuk, darahnya sedang mengalir, inderanya sedang berkembang. Bagi mereka tidak ada kata ‘esok’.

Penggalan tulisan itu menjadi inspirasi bagi Hermann Gmeiner memulai karya kemanusiaannya pada tahun 1949 di Imst Austria. Pasca perang dunia kedua terdapat banyak anak kehilangan orangtua dan perempuan-perempuan yang merindukan keluarganya yang hilang.

SOS Children’s Villages memberikan kembali kehangatan bagi anak melalui kasih sayang mereka, yang kemudian membentuk ikatan keluarga. Berkembang di 135 negara, konsep keluarga menjadi keutamaan dalam pengasuhan SOS Children’s Villages.

Keluarga dengan kasih sayang, yang memberikan rasa aman dan rasa dihargai menjadi inti dari setiap proses tumbuh kembang anak. Orangtua yang tidak memiliki pemahaman pengasuhan yang baik akan menjadi orangtua yang lemah dan tidak dapat membantu anaknya untuk maju.

Anak-anak yang tidak dibesarkan dalam kasih sayang, rasa aman dan dihargai, mereka juga tidak terlatih untuk menghargai orang lain.

Memulai karya kemanusiaan di Indonesia pada 1 September 1972, SOS Children’s Villages merupakan organisasi non-profit yang fokus memberikan pengasuhan alternatif bagi anak-anak yang telah atau berisiko kehilangan pengasuhan orangtua. Bekerja di sepuluh kota di Indonesia, yaitu Banda Aceh, Meulaboh, Medan, Jakarta, Lembang, Bogor, Semarang, Yogyakarta, Bali, dan Flores, saat ini lebih dari 5500 anak Indonesia mendapatkan manfaat dari keluarga SOS.

Melalui program family-based care dan family strengthening program, setiap anak yang berisiko atau telah kehilangan pengasuhan keluarga kembali mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan keluarga baru, pendidikan terbaik dan jaminan kesehatan.

Di Indonesia, masih terdapat jutaan anak terlantar. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi SOS Children’s Villages untuk bekerja lebih giat melalui sistem dukungan yang melibatkan masyarakat, mitra korporasi maupun pemerintah.

“Tantangan terbesar SOS Children’s Villages di Indonesia saat ini adalah menggandeng sebanyak mungkin mitra yang terlibat dalam mendukung terwujudnya pengasuhan berkualitas, agar setiap anak dapat tumbuh maksimal dengan kapasitas dan mandiri. Idealnya, SOS Children’s Villages tidak lagi diperlukan di Indonesia, tetapi masih terdapat 4,1 juta anak Indonesia membutuhkan bantuan. Saat ini, SOS Children’s Villages mengupayakan pengasuhan dan pendampingan bagi 5500 anak, yang mana membutuhkan dukungan yang tidak sedikit untuk mewujudkan lingkungan terbaik bagi semua anak,” ujar Gregor Hadi Nitihardjo, National Director SOS Children’s Villages Indonesia dalam siaran persnya, Senin (9/9/2019).

Bencana alam menjadi salah satu penyebab anak-anak kehilangan pengasuhan keluarga. SOS Children’s Villages terlibat dalam emergency response saat terjadi bencana alam.

Pada 1992, saat tsunami di Flores yang mengakibatkan ratusan anak kehilangan keluarga dan terlantar, SOS Children’s Villages mendirikan desa anak kelima yang berlokasi di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur.  Gempa bumi Yogyakarta pada 2006, menjadi awal berkibarnya aksi kemanusiaan SOS Children’s Villages di Yogyakarta melalui program Family Strengthening.

Sederet bencana, seperti tsunami Aceh pada 2004, gempa Padang 2009, gempa Pengalengan 2009, gunung meletus di Yogyakarta pada 2010, bencana thypoon di Filipina 2013, banjir bandang 2015, dan gempa bumi Palu 2018, SOS Children’s Villages konsisten memberikan perlindungan bagi anak dan keluarga yang terdampak bencana melalui berbagai program yang berkelanjutan.

Dengan tagline ‘A Loving Home For Every Child’, SOS Children’s Villages memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan, pengasuhan, dan keluarga yang penuh kasih sayang agar anak-anak merasa aman, dihargai dan dicintai. Berkat bantuan dan dukungan dari ribuan orang baik, kita bisa bersama-sama memberikan tempat tinggal yang baik untuk ribuan anak. (Elwan)


Komentar Anda?