Polri Musuh Kebebasan Pers 2018

0
214

JAKARTA,- Untuk kesekian kali, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) diberi gelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) sebagai musuh kebebasan pers 2018.

Gelar yang dinobatkan AJI ini merupakan kali kesebelas Polri mendapat gelar tersebut sejak tahun 2000.

Ketua Umum AJI, Abdul Manan mengatakan sejak Mei 2017 hingga Mei 2018, Bidang Advokasi AJI mencatat terdapat 75 kasus kekerasan terhadap jurnalis. Kasus ini terjadi di 56 daerah kota/Kabupaten di 25 provinsi.

“Salah satu faktor penting dalam iklim politik yang mempengaruhi situasi kemerdekaan pers Indonesia adalah masih tingginya kasus kekerasan terhadap jurnalis,” kata Abdul Manan dalam Konferensi Pers di Cikini Cafe, Kamis (03/05/2018).

Angka ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya di periode yang sama, yakni 72 kasus kekerasan. Kasus kekerasan fisik masih mendominasi statistik kekerasan terhadap jurnalis, yakni sebanyak 24 kasus.

Lanjut Abdul Manan, jenis kekerasan fisik yang dialami oleh jurnalis beragam, mulai dari penyeretan, pemukulan, baik dengan tangan maupun dengan benda tajam atau tumpul, hingga pengeroyokan oleh oknum kepolisian.

“Kasus kekerasan kedua terbanyak adalah pengusiran. Pengusiran dilakukan baik oleh aparatur negara ataupun anggota security atau satpam,” ujarnya.

Pada periode Mei 2017-Mei 2018, pelaku kekerasan terbanyak, yakni 24 kasus, masih didominasi polisi. Disusul oleh pejabat pemerintah atau eksekutif dengan 16 kasus.

“Sudah bertahun-tahun polisi menjadi pelaku terbanyak kekerasan terhadap jurnalis, khususnya di luar Jakarta,” imbuh Abdul Manan.

Salah satu kasus yang menjadi sorotan termasuk kekerasan yang dilakukan oleh seorang anggota polisi di Timika, Papua, kepada wartawan Okezone.

Kasus itu berlanjut kepada ancaman yang dilakukan oleh seorang anggota polisi lainnya kepada wartawan di daerah yang sama.

“Dalam beberapa kasus, pimpinan polisi setempat meminta maaf kepada jurnalis. Namun dalam lebih banyak kasus lain, pelaku belum mendapatkan hukuman yang sepatutnya,” tutur Abdul Manan.

Dalam konferensi pers tersebut, AJI juga mendesak aparat penegak hukum memproses dengan serius laporan kasus kekerasan terhadap jurnalis dan media.

“Ini harus jadi instropeksi bagi Polri, supaya memberikan pengetahuan dan penyadaran kepada personilnya untuk mengurangi praktik seperti itu,” pungkasnya. (Red)


Komentar Anda?