Pertumbuhan Ekonomi Priangan Timur 5,8 Persen

0
228

TASIKMALAYA,- Pertumbuhan ekonomi wilayah Priangan Timur mencapai 5,8 persen pada 2018. Angka itu menunjukkan kenaikan atau akselerasi dibanding pertumbuhan ekonomi pada 2017 yang hanya 5,4 persen.

Demikian hal tersebut mengemuka dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya dengan teman Sinergi untuk Ketahanan dan Pertumbuhan di Ballroom Hotel Santika, Jalan Yudanegara, Kamis 20 Desember 2018.

Dalam evaluasi kinerja ekonomi, prospek dan kebijakan BI  2018, Kepala Perwakilan BI Tasikmalaya Heru Saptaji menuturkan, pertumbuhan ekonomi wilayah Priangan Timur pada 2018  diperkirakan mencapai 5,8 persen atau lebih tinggi dari 2017 yang hanya 5,4 persen. Kondisi tersebut sejalan dengan‎ pertumbuhan ekonomi Jawa Barat yang mencapai 5,7 persen pada 2018. Angka tersebut, lanjut Heri, lebih tinggi dari tahun 2017 sebesar 5,29 persen.

Inflasi rendah yang terjadi pun mendukung pertumbuhan ekonomi Priangan Timur.‎ “Inflasi nasional sepanjang 2018 tetap rendah sehingga mendukung peningkatan daya beli masyarakat,” ujar Heru. Di Jabar, tuturnya, inflasi hingga November 2018 mencapai 0,28 persen atau 2,97 persen dan secara tahunan 3,55 persen.

“Di wilayah Priangan Timur, daerah yang inflasinya termasuk dalam perhitungan inflasi nasional adalah Kota Tasikmalaya,” ujar Heru. Hingga November 2018, inflasi Kota Tasikmalaya tercatat lebih rendah dibandingkan inflasi Jabar maupun nasional. Pada November 2018, inflasi Kota Santri hanya sebesar 0,26 persen atau lebih rendah dari rata-rata historis lima tahun terakhir sebesar 0,36 persen. “Secara keseluruhan untuk tahun 2018 inflasi Kota Tasikmalaya diperkirakan mencapai 2,4 persen,” ujarnya.

Heru menilai, terjaganya inflasi merupakan hasil nyata koordinasi erat BI dan pemerintah daerah melalui implementasi program-program Tim Pengendalian Inflasi Daerah. “Dengan realisasi inflasi yang rendah, menunjukkan bahwa efektifitas program TPID di seluruh wilayah Priangan Timur meningkat,” tuturnya.

Dia menambahkan, stabilitas keuangan nasional juga terjaga dan ditopang oleh permodalan perbankan yang kuat, terkendalinya risiko kredit, peningkatan penyaluran kredit, dan likuiditas yang cukup. “Fungsi intermediasi perbankan yang cukup kuat juga terjadi di Jawa Barat. Intermediasi perbankan di wilayah Priangan Timur tetap tumbuh positif meskipun melambat dibanding pertumbungan pada tahun 2017,” ucap Heru.

Penyaluran kredit saat ini di Priangan Timur tumbuh 8,1 persen dengan risiko kredit yang masih terjaga yakni NPL sebesar 3,0 persen. Sementara itu, penghimpuan DPK tumbuh 10,4 persen. “Dengan perkembangan pada penyaluran kredit dan penghimpuan pada DPK tersebut, terpantau bahwa Loan to Deposit Ratio di wilayah Priangan Timur lebih dari 100 persen,” kata Heru.

Secara spasial, lanjutnya, pertumbuhan kredit Priangan Timur ditopang oleh perbankan di Kota Tasikmalaya yaitu dengan pertumbuhan 11,78 persen dan rasio NPL rendah sebesar 1,66 persen. Sedangkan penghimpuan DPK tumbuh signifikan di Kota Banjar sebesar 33,85 persen.

Pembinaan UMKM orientasi ekspor

Heru menambahkan, Kantor Perwakilan BI Tasikmalaya memiliki berbagai peranan dan fungsi dalam menjalankan tugasnya. Salah satu fungsi tersebut adalah pelaksanaan pengembangan UMKM sebagi ujung tombak ekonomi yang berorientasi ekspor.

“Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah pengembangan klaster bawang merah, budidaya padi total organik Sukahening, kopi Cigalontang, bordir, pembinaan wirausaha BI, pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren,” ujarnya. “PR” sempat pula mewawancari sejumlah pelaku usaha yang dibina Perwakilan BI Tasikmalaya. Salah satunya adalah kelompok petani Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya.‎ Di sana, sejumlah petani menanam pohon kopi jenis Arabika guna diproduksi bijinya.

Awalnya, penanaman dilakukan pada lahan seluas 6,8 hektar pada 2012 oleh seorang petani bernama Apong. Cigalontang yang memiliki ketinggian 1000-1500 meter di atas permukaan laut cocok untuk menanam kopi Arabika.Kerabat Apong, Dedi Efendi (45) mengungkapkan, sejumlah petani lain ikut menanam kopi Arabika.

Jumlat petani penanam kopis jenis tersebut pun membengkak hingga 60 orang. Mereka tergabung dalam dua kelompok petani. Tak hanya itu, para petani memproduksi kopi dalam kemasan dengan merek Kopi Arabika Gunung Raja Cigalontang. Produk kopi kemasan tersebut pun masuk dan dijual ke sejumlah kafe di Kabupaten/Kota Tasikmalaya.

Produksi lain dijual ke tempat penampungan kopi di Malabar, Kabupaten Bandung. Hasil panen, lanjut Dedi, bisa mencapai 17 ton biji mentah kopi. Setelah dijemur, jumlah itu menyusut menjadi empat ton. Produksi kopi Cigalontang saat ini menjadi tumpuan hidup para petani lokal. Menurut Dedi, kopi Cigalontang memiliki beberapa keunggulan dibanding kopi lain. “Aman di lambung,” ujarnya. Bau kopi juga agak mirip dengan gula aren.


Komentar Anda?